I made this widget at MyFlashFetish.com.

Minggu, 20 Februari 2011

Psikologi Pendidikan dengan Upin & Ipin


“Betul, betul, betul…”
                Ayo, itu kata-kata yang biasa kita dengar kalau lagi nonton serial kartun apa? Yup, siapa yang tidak tahu Upin dan Ipin, karakter yang menjadi idola anak-anak sekarang. Bahkan bukan Cuma anak-anak saja. Hampir semua umur menyukai karakter kembar yang berasal dari negeri jiran ini.
                Sebagaimana anak-anak kecil normal lainnya, mereka suka bermain dengan teman teman mereka, seperti Ehsan, Fizi, Mail, Mei-Mei, Jarjit, Rajoo, dan karakter baru dari Indonesia Susan yang biasanya kita akan menemui kesemuanya di sekolah mereka Tadika Mesra. Keseharian si kembar tidak jauh dari anak-anak ini. Begitu juga dengan keluarganya, Kak Ros, Opah dan tetangganya seorang lansia tapi tetap enerjik, Tok Dalang Ranggi. Berlatar di Kampung Durian Runtuh mereka menghabiskan waktunya.
                Setelah meluncurkan beberapa serialnya, pihak Les Copaque sebagai perusahaan pembuatan animasi Upin dan Ipin membuat terobosan barunya dalam bentuk film berdurasi 90 menit berjudul “Upin dan Ipin Geng: Pengembaran Bermula”.
                Film ini masih tidak jauh dari serialnya yang mengedepankan Upin dan Ipin sebagai pemeran utamanya. Masih berlatarkan Kampung Durian Runtuh, film ini menceritakan tentang Misteri Hantu Durian yang membuat geger masyrakatnya sampai-sampai ada satu acara berita yang khusus menanyangkannya di TV plus interview dengan Tok Dalang Ranggi. Si kembar yang masih polos tetap saja pergi ke kebun durian yang niat awalnya ingin mengambil durian malah terjebak di hutan dan akhirnya menemukan si Opet, anak monster yang biasa makan buah mirip durian. Dialah yang sebenarnya mencuri buah durian dari kebun Tok Dalang. Bersama Rajoo, Kak Ros, Badrol dan Lim pengalaman mereka terus berlanjut ketika memecahkan misteri baru mengenai monster “palsu” yang sering berkeliaran disana yang sebenarnya adalah pemburu illegal, Pak Mail, Paman Singh, dan Sally. Sepanjang perjalanannya mereka juga harus menghadapi monster sungguhan, ular raksasa, lintah raksasa, dan lain-lain.
                Ternyata pembuatnanya membutuhkan waktu 3 tahun hanya untuk film berdurasi 90 menit. Bayangkan saja. Kalau dilihat-lihat dari proses pembuatannya tentu berhubungan dengan psikologi pendidikan. Animasi yang cukup menyita perhatian ini sangat mengandalkan teknologi dalam pembuatannya. Bahkan setelah memakai teknologi pun masih saja lama. Untuk membuat satu karakter saja dibutuhkan waktu sekitar satu hari. Psikologi pendidikan lain yang saya dapatkan terlepas dari diversitas sosiokultural film ini adalah mengenai para pekerjanya. Terutama mengenai pengorganisasian kerja yang dilakukan. Motivasi, pengelolaan, perencanaan, dan instruksi.
                Dari filmnya sendiri, psikologi pendidikan yang saya dapatkan adalah diversitas sosiolutural. Dari film tersebut dapat kita lihat bagaimana Upin dan Ipin dari suku Melayu asli Malaysia dapat bergabung dengan Rajoo dari suku India. Tapi sebenarnya orang-orang yang bekerja di balik layarnya juga begini loh. :)

2 komentar:

psipddk3sks mengatakan...

bagus Reza...
ide diversitas pada pembahasanmu...
pandangan yang jeli :)

namun disisi lain...
animasi spongebob ini agak mengganggu jika kita mau membaca atau menulis komen...
mungkin posisinya atau kalo bisa diperkecil mungkin jadi proporsional...

regards.
di

Reza Indah Pribadi Simatupang mengatakan...

Oh iya bu,, terima kasih buat masukan mngenai animasinya, mungkin karena ini teman-teman jaid jarang komen blog saya,, :)

Reza usahkan buat yng menarik tpi ttp bisa dinikmati dgn baik..

Poskan Komentar