I made this widget at MyFlashFetish.com.

Selasa, 08 Februari 2011

Internet-WiFi Di Sekolah, Bukannya Semakin "Bebas"??


Di era modern sekarang ini, pendidikan tidak dapat dipisahkan dari teknologi. Murid-murid dewasa ini tumbuh di dunia yang jauh berbeda dengan di mana ketika orang tua dan kakek mereka masih menjadi murid. Jika murid ingin siap kerja, teknologi harus menjadi bagian integral dari sekolah dan pelajaran di kelas (Earle, 2002; Geisert & futrell, 2000; Sharp 2002).
                Namun salah satu teknologi yang paling penting untuk pendidikan saat ini adalah internet. Internet adalah inti dari komunikasi melalui computer. World Wide Web (www) adalah system pengambilan informasi hypermedia yang menghubungkan berbagai materi internet. Website adalah lokasi individu atau organisasi di internet (Santrock, 2004). Dengan internet kita dapat mengakses dunia luar dengan sangat mudah. Biasanya anak-anak dari kelas menengah ke atas sudah punya computer di rumah lengkap dengan sambungan internetnya.
                Tapi bagaimana jaringan internet di sekolah dan khususnya yang ingin saya tekankan adalah jaringan nirkabel (wireless) atau yang biasa disebut WiFi. Bukankah dengan jaringan internet nirkabel ini para murid akan semakin mudah dalam mengakses apa saja? Kalau “apa saja” ini dalam tanda kutip berarti positif malah sangat bagus. Tapi kalau negative??
                Walaupun di sekolah ada guru, tapi guru itu tidak selalu berada di samping murid untuk membimbing bukan? Sebagai perumpamaan di sekolah ada 7 jam pelajaran efektif dengan 2x15 menit jam istirahat. Memang pada jam pelajaran anak dapat dikontrol. Bagaimana ketika jam istirahat itu? Guru juga butuh jam istirahat bukan. Jadi bagaimana mengawasi anak-anak ini? Apakah dengan membuat peraturan tidak boleh membawa laptop atau handphone? Itu sangat tidak mungkin. Kedua gadget itu sangat penting untuk anak khususnya ketika berada di sekolah.
                Cara yang dapat dilakukan salah satunya adalah bimbingan dari orangtua maupun gurunya. Berikan kepercayaan pada anak. Biasanya semakin dikekang anak akan semakin ingin tahu dan coba-coba. Kemudian ajarkan ajaran agama yang memadai pada anak begitu juga dengan hal-hal positif lainnya. Ketika anak memiliki jadwal yang penuh dengan kegiatan positif seperti les, ekskul, organisasi, dan lain sebagainya. Sehingga anak tidak memiliki kesempatan untuk akses yang “bukan-bukan”.
                Ketahui juga dengan siapa anak berteman. Anak memang boleh berteman dengan siapa saja. Namun beri juga nasehat-nasehat penting pada anak ketika bersama teman dan berada di luar pengawasan. Terkadang memang bukan si anak yang ingin mengakses yang tidak baik, namun karena pengaruh teman dia bisa saja ikut-ikutan.
Santrock, John W., (2004). Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua. Jakarta: Prenada

0 komentar:

Poskan Komentar