I made this widget at MyFlashFetish.com.

Jumat, 03 Juli 2015

Road to UK; Pengalaman Mengikuti IELTS (part 1)

Sudah lama sekali rasanya nggak ngeblog. Walaupun sebenarnya kemarin buat blog untuk tugas kuliah aja tiba2 sekarang pengen nulis sesuatu lagi hahaha. Terakhir nulis itu tahun 2012 dan sekarang udah 2015. Berarti sudah 3 tahun vakum nulis.

Akhir2 ini saya sedang sibuk dengan visa UK (ribetnya ampun). Saya sudah diterima di salah satu universitas di Inggris dan akan mulai kuliah September nanti. Kalau dibandingkan, melengkapi berkas untuk masuk universitas JAUH lebih mudah daripada berkas untuk visa.

Di tulisan kali ini saya mau cerita pengalaman manis pahit untuk mendapatkan salah satu syarat masuk uni dan buat visa yaitu IELTS. Tes bahasa inggris yang satu ini dijadikan penilaian terhadap kemampuan bahasa inggris seseorang yang akan masuk ke UK. Kenapa saya mau cerita yang ini dulu dari pada dokumen lainnya? SAYA HARUS DUA KALI MENGIKUTI TES INI KARENA NILAI YANG TIDAK CUKUP, hikshikshiks.

Sebenarnya ini semua salah saya juga yang terlalu anggap remeh dan malas latihan. Mungkin tulisan ini akan saya bagi jadi 3 part saking panjangnya cerita untuk mencapai skor IELTS yang cukup.

Universitas tujuan saya mentargetkan skor overall 6.5 dan tidak boleh ada yang di bawah 6 pada setiap elemen. Nah, karena mau siap2 dan nggak mau tes berkali2 saya putuskan untuk ikut les saja. Saya les selama 3 bulan khusus untuk IELTS preparation dimulai April-Juli 2014. Selama les saya memang mendapatkan banyak tips dan trik untuk tes ini tapi kekurangan saya adalah tidak mau mengulang dan mempraktekkan atau melatih diri saya sendiri. Apa yang saya dapat selama les ya mentok itu saja jadi emang nggak berkembang.

Akhir April salah seorang teman saya mengajak untuk ikut simulasi. Saya langsung setuju, hitung2 untuk membiasakan diri dengan situasi tes dan soal2 nya. Saya hanya bayar 50ribu saja untuk sekali tes. Di hari H, sesampainya di tempat simulasi tes, saya dan kedua teman saya terkejut dengan peserta  lainnya. KAMI YANG PALING TUA, SELEBIHNYA CABE2AN. Umur waktu itu masih 21 dan rata2 peserta lain itu masih early teens. Heran juga kenapa mereka ikut tes kayak beginian, entah mau lanjut SMA di luar juga ga ngerti pokoknya kami merasa tua di antara mereka. Nggak lama rupanya ada seorang senior dan junior di kampus yang ikut juga. Jadilah kami berlima tua2 keladi (apa sih?)

Nah, tes dimulai dengan listening. Sumpah ini buat bingung. Kita diminta denger sambil ngisi. Bukan cuma titik2 doang tapi pilihan ganda, menjodohkan juga. Akhirnya saya banyak miss dan asal jawab. Next ada reading. Disini sih nggak banyak masalah, hanya saja saya muak dengan 3 passage dan 40 pertanyaan yang juga bukan cuma titik2 tapi juga pilihan ganda, menjodohkan header atau tema, summary, dan yang paling ngeselin true false notgiven. Bayangkan true false aja udah keteteran di IELTS malah ada not given. Mampus sudah.

Habis itu kami masuk writing. Disini ada 2 task. Task 1 biasanya kita dikasih diagram atau sejenisnya trus kita cuma diminta untuk describe. Task 2, si momok yang menyebalkan adalah essay dengan topik tertentu. Waktu itu saya dengan santainya cuma nulis tanpa ada sistematikanya, strukturnya, paragrafnya. Yang ada ada di otak saya waktu itu cuma tulis sesuai topik dan jangan sempat salah grammar dan lebih dari 250 kata. Udah, titik.

Pas speaking kita dapat jadwal karena memang di IELTS ini speaking itu kaya wawancara. Jadi kita komunikasi langsung dengan manusia. Bukan kayak TOEFL ibt dimana kita ngomong sama komputer haha. Waktu itu saya kebagian jadwal sama bule cowok masih muda kira2 masih early 20s juga. Dari tampangnya saya merasa dia kurang kredibel untuk jadi examiner IELTS hahahaha. Tapi ya namanya juga simulasi, yang penting bule dah. Cukup. Saya menjawab pertanyaan cukup lancar walaupun masih suka aaa uu eee karena nggak tahu apa bahasa inggris yang mau saya ucapkan. Jawaban saya waktu itu juga cenderung pendek dan nggak dijabarkan padahal itu sangat penting.

Nah, 13 hari kemudian saya dapat sertifikatnya dan mata saya hampir keluar melihat hasilnya. Saya cuma dapat overall 5 dengan rincian
Listening 5
Reading 6.5
Writing 2.5
Speaking 6.5

Betapa kecewanya saya pada saat itu khususnya writing. Dapat 2.5 itu rasanya tulisan saya tak berarti apa2 dan terkesan masih tulisan anak yang baru belajar bahasa inggris.

Setelah dapat hasil seperti itu, Reza Indah Pribadi emang jadi semangat menggebu untuk lanjutin les. Tapi ya emang cuma sebatas semangat aja. Nggak ada praktek nyata T.T
Sampai selesai di Juli, saya tetap tidak pernah mengulang pelajaran dan latihan sepulang les. Apa yang saya dapatkan selama satu setengah jam saat les itulah yang menjadi pegangan saya. Padahal saya punya banyak waktu luang. Maklum anak semester akhir dan saya cuma fokus di skripsi, nggak ada ngambil mata kuliah lain. Saya sangat malas sekali untuk belajar.

September saya wisuda dan saya sudah pesan untuk tes di bulan Oktober. Nah, disini saya 'agak' rajin. Saya punya buku IELTS Cambridge series1-10 dan sampai hari H saya hanya bahas 3 seri. Itupun untuk reading dan listening saja. Speaking sama sekali tidak ada latihan dan writing hanya menulis saat saya sedang mood. Jujur saya orang yang susah menjabarkan ide pikiran padahal itu salah satu penilaian di writing. Kalau misalkan pertanyaannya: HP adalah salah satu perangkat modern yang membuat komunikasi verbal manusia sekarang menjadi buruk, apakah Anda setuju atau tidak setuju dengan pernyataan ini? Seorang Reza hanya akan bisa jawab: setuju karena X, Y, Z. Padahal untuk essay sebenarnya kita dituntut untuk menjawab: setuju karena X; X1, X2, X3 Y; Y1, Y2, Y3 dst. Maksudnya, setiap alasan harus dipaparkan dengan terperinci agar terbentuk suatu paragraf dengan sebuah ide pokok yang dijabarkan oleh ide pendukung lainnya.

Pengalaman saya mengikuti IELTS perdana akan saya sambung di post selanjutnya.


0 komentar:

Poskan Komentar