I made this widget at MyFlashFetish.com.

Jumat, 03 Juli 2015

Road to UK; Pengalaman Mengikuti IELTS (part 2)

Akhirnya hari yang dinantikan tiba. 11 Oktober 2014 saya mengikuti IELTS perdana saya. Tapi apalah yang bisa diharapkan dari persiapan yang pas2an. Listening saya cukup banyak yang missed, hanya reading yang bisa saya harapkan untuk mendongkrak nilai saya karena saya cukup PD bisa mendapatkan nilai bagus di elemen tersebut. Writing saya pun amburadul walaupun sudah lebih baik daripada saat simulasi. Setidaknya saya sudah membaginya menjadi 4 paragraf utuh tapi isinya wallahuaklam. Saya kepikiran terus selama waktu menunggu speaking. Saya nggak mau ngulang, saya harus bisa dapat target, saya harus optimis. Itulah yang terus saya camkan sebelum speaking.

Memasuki speaking, examiner saya bule cowok paruh baya. Selama sesi berlangsung saya menjawab cukup lancar tapi agak pendek dan tidak jauh berbeda dari simulasi. Maklumlah, saya memang tidak ada latihan untuk yang satu ini. Dia terus pasang raut serius. Saya senyumin atau ada ada topik dan jawaban saya yang bisa disenyumin juga tetep tegang mukanya. Yaudah la mak ee, pasrah aja.

13 hari menanti hasilnya sangat menegangkan, saya sampai susah tidur apalagi mendekati hari H. Saya sangat takut. Saking degdegannya saya nggak mau buka hasilnya hari itu juga. Sabtu baru saya buka hasilnya. Tangan dingin gemetaran, jantung kayak berhenti sebentar, dan mata melotot liat haslinya. Mengecewakan naudzubillah. Benar2 mengecewakan.

Listening 6
Reading 6.5
Writing 5.5
Speaking 6.5
Overall 6

Selama beberapa saat saya mencoba memastikan bahwa saya tidak salah lihat. Ternyata memang cuma 6. Sesak rasanya padahal tinggal 0.5 lagi. Rp 2.350.000 sia2 begitu saja. Mau tes lagi segan minta sama mama karena biaya tes nya yang mahal. Akhirnya saya bulatkan tekad untuk tetap mendaftar ke universitas dengan nilai yang tidak cukup itu. Toh paling2 akan dapat LOA conditional. Uang untuk tes bisa diusahakan dari tabungan sendiri. Akhir Oktober sampai awal November saya siapkan berkas untuk daftar ke universitas tujuan dan pada akhir November saya terima email kalau saya diterima di uni tersebut dengan syarat saya harus dapat nilai IELTS yang telah ditetapkan.

Setelah mendapatkan kabar gembira tersebut saya langsung bersemangat lagi untuk ikut IELTS. Saya benar2 takjub pada diri saya sendiri. Saya tidak ikut les lagi dan malah membuat jadwal latihan saya sendiri. Saya lahap sisa buku IELTS Cambridge saya dari seri 4-10 dan sumber2 lainnhya. Saya memang model kerbau yang musti 'dicambuk' baru mau bekerja. Saya tidak mau IELTS yang ketiga, keempat, kelima, atau seterusnya. Ini harus jadi yang terakhir.

Desember 2014 saya fokus di writing task 2, Januari 2015 task 1, Februari 2015 reading dan listening. Jadi intinya 7 buku saya lahap dalam waktu 3 bulan. Akhir Februari saya pesan tes tanggal 14 Maret. Jadi selama 13 hari sebelum tes saya ulangi lagi latihan 3 bulan tersebut untuk direfresh dan juga sekaligus latihan speaking. Kali ini saya betul2 belajar. Saya download aplikasi IELTS Speaking (kalau tidak salah, soalnya udah dihapus hehe) di iPad saya. Dengan aplikasi ini kita bisa latihan sendiri karena sudah ada pertanyaan yang disediakan dan waktu juga sehingga serasa sedang sesi speaking beneran.

Selama latihan untuk IELTS kedua ini, reading saya pernah mencapai skor 9 dan listening 8.5 tapi saya tidak boleh terlalu senang karena pada latihan untuk IELTS pertama saya paling tinggi 8 di listening dan 7 di reading tapi malah jauh drop pada hasil tes yang sebenarnya. Akhirnya dari situ saya hanya berani pasang target 7-7.5 untuk kedua elemen ini di IELTS kedua saya. Nggak muluk2 toh minimal 6.5 saja yang diperlukan. Saya pasang target tinggi di kedua elemen itu karena takut drop lagi di writing, jadi bisa didongkrak. Karena saya tidak bisa menilai latihan writing dan speaking saya sendiri, jadinya hanya bisa pasrah. Yang penting saya sudah maksimal dalam latihan.

Untuk pengalaman mengikuti IELTS kedua akan dilanjutkan di post berikutnya..

0 komentar:

Poskan Komentar