I made this widget at MyFlashFetish.com.

Senin, 18 Juni 2012

UAS Paedagogi TA 2011/2012

8 komentar:

psipddk3sks mengatakan...

1. Coba baca buku referensi halaman 103 paragraf kedua. Ada pernyataan bahwa 'kekuatan paedagogi ilmiah adalah membuat pembelajaran semakin praktis dilihat dari prima konsep teoritis'. Silahkan beri argumentasi anda tentang hal di atas berkaitan dengan fenomena micro teacning yang anda lakukan.

Reza Indah Pribadi Simatupang mengatakan...

Menurut pendapat saya, pernyataan itu sangat tepat sekali dan benar berhubungan dengan tugas lapangan moicro teaching. Setiap kelompok tentunya akan membuat suatu landasan teori sebagai suatu perencanaan untuk dasar mereka melaksanakan microteaching. Bagaimana suatu kelompok dapat menjalankan tugasnya apabila tidak mempuanyai suatu dasar untuk dijalankan. Walaupun sudah ada teori yang dijadikan landasan, ternyata masih ada saja kelompok yang mengalami hambatan. Bagaimana lagi kalau tidak dilandasi teori? Pedagogi ilmiah sudah menjalani berbagai penelitian dalam proses yang panjang sehingga terbentuklah berbagai teori pedagogi yang kita baca sekarang ini. Teori tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Hal itu merupakan kelemahan manusia. Maka dari itu ada banyak teori yang bermunculan karena manusia itu dinamis dan ingin tahu. Teori dan praktik merupakan hal yang resiprokal. Teori akan membantu praktik/aplikasi, dalam praktik kita juga dapat mendapat pengalaman yang mengarahkan pada penemuan teori baru. Dengan adanya teori memudahkan-membuat menjadi praktis-kelompok dalam menjalankan tugas microteachingnya. Kemudahan yang didapat baik dari segi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Teori dalam perencanaan dijadikan dasar arah atau jika diibaratkan dalam pendidikan teori itu seperti kurikulum yang dijadikan guru sebagai landasan ia mengajar dalam kelas. teori dalam pelaksanaan merupakan implementasi dari teori tersebut secara langsung dipraktikkan oleh guru. Dan terakhir teori dalam evaluasi akan menjadi standar apakah seorang peserta didik telah mencapai kompetensi yang telah disusun sebelumnya. Seorang anak dikatakan berhasil atau tidak, pasti memiliki suatu standar tertentu. Sehingga pedagogi ilmiah atau teoritis akan sangat mempermudah pedagogi praktis sebagai aplikasi dari pedagogi ilmiah.

psipddk3sks mengatakan...

(Reza, perhatikan kalimat ini pada soal pertama anda ; berkaitan dengan fenomena micro teacning yang anda lakukan. Karena waktu saya perkirakan masih cukup, silahkan cermati sehingga soal kedua menjadi relavan nantinya.)

Reza Indah Pribadi Simatupang mengatakan...

terima kasih atas kesempatan revisi nya bu.

Menurut pendapat saya, pernyataan itu sangat tepat sekali dan benar berhubungan dengan tugas lapangan moicro teaching. Setiap kelompok tentunya akan membuat suatu landasan teori sebagai suatu perencanaan untuk dasar mereka melaksanakan microteaching. Bagaimana suatu kelompok dapat menjalankan tugasnya apabila tidak mempuanyai suatu dasar untuk dijalankan. Walaupun sudah ada teori yang dijadikan landasan, ternyata masih ada saja kelompok yang mengalami hambatan. Bagaimana lagi kalau tidak dilandasi teori? Pedagogi ilmiah sudah menjalani berbagai penelitian dalam proses yang panjang sehingga terbentuklah berbagai teori pedagogi yang kita baca sekarang ini. Teori tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Hal itu merupakan kelemahan manusia. Maka dari itu ada banyak teori yang bermunculan karena manusia itu dinamis dan ingin tahu. Teori dan praktik merupakan hal yang resiprokal. Teori akan membantu praktik/aplikasi, dalam praktik kita juga dapat mendapat pengalaman yang mengarahkan pada penemuan teori baru. Dengan adanya teori memudahkan-membuat menjadi praktis-kelompok dalam menjalankan tugas microteachingnya. Kemudahan yang didapat baik dari segi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Teori dalam perencanaan dijadikan dasar arah atau jika diibaratkan dalam pendidikan teori itu seperti kurikulum yang dijadikan guru sebagai landasan ia mengajar dalam kelas. teori dalam pelaksanaan merupakan implementasi dari teori tersebut secara langsung dipraktikkan oleh guru. Dan terakhir teori dalam evaluasi akan menjadi standar apakah seorang peserta didik telah mencapai kompetensi yang telah disusun sebelumnya. Seorang anak dikatakan berhasil atau tidak, pasti memiliki suatu standar tertentu. Sehingga pedagogi ilmiah atau teoritis akan sangat mempermudah pedagogi praktis sebagai aplikasi dari pedagogi ilmiah.
Jika dihubungkan dengan microteaching yang kami lakukan sangat terasa sekali wujud pedagogi ilmiah yang memudahkan praktiknya. Dari buku pegangan yang berisi banyak teori pedagogi, menjadi landasan kelompok untuk melakukan microteachingnya. Misalnya teori prinsip-prisip Paedagogis salah satunya adalah kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses paedagogis (Addine, 2001), dalam artian bahwa setiap proses paedagogis harus terstruktur. Seperti apa yang telah kami lakukan, bahwa kami membagi proses mengajar kami menjadi 3 bagian yakni: icebreaking dan pengenalan, kemudian kami memasuki bahan ajar, dan terakhir games dan penutup. Adanya teori yang mengharuskan bahwa dalam pelaksanan harus dilaksanakan secara sistematis dan menyatu membuat kami lebih mudah menyusun proses microteaching seperti 3 bagian yang telah disebuitkan sebelumnya. Sehingga kami tinggal menjalankannya saja tanpa melakukannya dengan terbalik-balik misalnya menyajikan materi kemudian dilanjut dengan pembukaan. Kemudahan pada saat evaluasi yang dirasakan karena teori adalah kami mengetahui sudah sejauh mana kami berhasil dalam menjalankan poin mengenai prinsip pedagogis. Misalnya bagian mana dari 5 prinsip pedagogis yang telah tercapai dan mana yang belum. Ketika telah mencapai kelima prinsip tersebutr berarti kami sudah berhasil melakukan sesuai dengan yang telah disebutkan teori yang kami gunakan sebagai landasan teori sehingga tidak bingung lagi sebenarnya kami sudah berhasil atau tidak.

psipddk3sks mengatakan...

2. Lalu berkaitan dengan uraian anda di atas, apakah daftar pertanyaan di halaman 112 memiliki relevansi untuk mendapat penjelasan ?

Reza Indah Pribadi Simatupang mengatakan...

Jawaban yang telah saya paparkan pada soal pertama mendapatkan relevansi dengan pertanyaan yang terdapat di halaman 112 buku pegangan pedagogi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memiliki peran yang sama dengan teori pedagogi. Misalnya pertanyaan mengenai penilaian kebutuhan: materi apa yang dibutuhkan? mendorong kelompok untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh peserta microteaching sebagai pengenalan atau malah pendalaman materi yang telah diajarkan. Dengan adanya pertanyaan semacam ini mengadakan microteaching tidak semata hanya sekedar formalitas mengerjakan tugas lapangan namun berbagi pengetahuan yang dimiliki dengan peserta microteaching lainnya sehingga ada manfaat yang mereka dapatkan ketika mengikuti microteaching ini. Pertanyaan lain misalnya mengenai strategi: bagaimana guru mengajar untuk memaksimalkan hasil? Pertanyaan ini menjadi stimulus pada kelompok untuk melaksanakan pedagogi sebagai suatu seni yang dalam buku Sudarwan Danim halaman 6 mengatakan salah satu seni mengajar berupa improvisasi dan ekspresi. Sehingga dalam pelaksanaan microteaching, kelompok melakukan hal-hal yang “on-the-spot”. Sebelumnya tidak terpikirkan untuk bernyanyi ABC ketika pengenalan, namun kelompok melakukannya karena merasa hal itu menjadi suatu keperluan mendadak ketika melihat anak disana masih malu-malu dengan kami. Kemudian cara mengajar kami cukup ekspresif seperti memberi bintang kertas kecil bagi tiap peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar ataupun bagi yang mau tampil volunteer di depan kelas untuk mempraktekkan suatu percakapan bahasa inggris.
Dengan penjelasan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa daftar pertanyaan seperti yang tertera dalam buku dapat mempermudah prosesnya di lapangan sehingga suatu proses pengajaran tidak sis-sia dilaksanakan.

psipddk3sks mengatakan...

3. Sehubungan dengan jawaban pada soal nomor dua, coba anda jelaskan peran dari "guru memiliki tugas tambahan untuk mendorong, memfasilitasi dan merangsang munculnya proses, membantu meyakinkan bahwa hal itu berkembang dalam arah yang menarik dan produktif bagi siswa (halaman 121). Apakah hal tersebut terjadi pada anda saat menjalankan micro teaching? coba jelaskan.

Reza Indah Pribadi Simatupang mengatakan...

Guru memiliki tugas tambahan untuk mendorong, memfasilitasi dan merangsang munculnya proses, membantu meyakinkan bahwa hal itu berkembang dalam arah yang menarik dan produktif bagi siswa, Saya sangat setuju dengan statement tersebut. Merangsang untuk terjadinya suatu proses berarti adanya suatu hubungan resiprokal yang terjadi antara guru dan murid. Guru tidak melulu berceramah A-Z tapi ada pertisipasi aktif dari murid yang dirangsang oleh guru sehingga tercipta suatu proses belajar mengajar yang produktif dan berguna bagi kedua belah pihak. Bahkan dalam keadaan tertentu, mendorong dan merangsang siswa ke proses yang produktif bukan lagi menjadi tugas tambahan bagi guru melainkan tugas pokok. Mengapa? Karena adanya perbedaan individual siswa yang dihadapi oleh guru. Ada anak yang memang tanpa harus dirangsang dia sudah produktif. Namun ada juga anak yang harus dirangsang dan didorong untuk dapat produktif secara optimal. Anak seperti inilah yang menjadi kewajiban guru untuk mendorong dan merangsangnya Kemudian, alasan saya selanjutnya mengapa guru harus melakukan hal-hal tersebut agar aktifitas kelas terlihat dan bermakna bagi semua peserta didik. Semua siswa mendapat kuantitas dan kualitas pelajaran yang sama tanpa peduli mereka bodoh atau pintar. Semua sama-sama belajar. Cara guru untuk mendorong dan merangsang bisa dengan memberikan reward, suasana kelas yang nyaman dan aktif, cara mengajar guru yang sesuai dengan kebutuhan anak, dan tugas mandiri.
Jika dihubungkan dengan pelaksanaan microteaching yang telah dilakukan kelompok, kami merasa bahwa kami telah melakukan hal tersebut. Wujudnya berupa pemberian bintang kertas kecil ketika ada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan atau mau menjadi volunteer di depan kelas. karena nantinya, bintang tersebut dapat mereka tukarkan di akhir pertemuan dengan makanan ringan yang telah kami siapkan sehingga ada rangsangan pada mereka untuk memberi atau menunjukkan apa yang mereka punya, apa potensi mereka, dan sejauh mana mereka memahami materi bahasa inggris yang telah kami sajikan. Merekapun berebut menjawab pertanyaan dari kami tanpa malu-malu dan berpartisipasi aktif di kelas. Selain itu kami juga membangun proses dengan model pengajaran yang tidak menunjukkan bahwa kami lebih dari mereka. Kami tertawa dan bercanda bersama mereka, kami mengajak mereka untuk membuat microteaching ini menjadi suatu proses belajar yang menyenangkan dan kami semua baik kelompok maupun peserta mendapat manfaat. Manfaat dari kami tentunya adalah pengalaman berharga yang dapat dijadikan pembelajaran untuk ke depannya dalam menghadapi anak-anak. Dan manfaat bagi mereka selain pengalaman belajar di luar sekolah juga materi-materi tambahan yang kami berikan.

Poskan Komentar