I made this widget at MyFlashFetish.com.

Senin, 07 September 2015

ROAD TO UK; UK VISA

Sudah dua bulan sejak postingan terakhir saya soal IELTS dan sekarang waktunya saya ceritakan soal pengalaman membuat VISA. Kalau IELTS saya pecah jadi 3 part, sekarang akan saya buat dalam bentuk full tanpa dipisah agar lebih mudah dipahami karna apply VISA ini prosesnya sambung menyambung menjadi satu berjajar pulau-pulau haha.

Visa yang saya apply adalah tier 4 general. Visa jenis ini adalah visa untuk pelajar, jadi kalau mau apply untuk melancong saja atau tujuan lain jenisnya beda lagi. Silahkan cek website visa4uk untuk penjelasan lebih detail, hehe.

Oke pertama sekali kita akan bahas apa-apa saja persyaratan untuk apply VISA. Untuk urusan VISA ini saya minta tolong agen pendidikan IDP Medan karena memang saya buta soal visa-visaan. Daftar dokumen yang harus dilengkapi, yaitu:

1.       1. Confirmation of Acceptance for Studies (CAS)
2.       2. Passport
3.       3. Paspoto latar putih 3.5 x 4.5 2 lembar
4.       4. Biaya visa sebesar 310 UKsterling (pas aku bayar online rupanya mereka minta dollar, jadinya USD515)
5.      5.  Form aplikasi yang diisi secara online kemudian diprint dan ditandatangani
6.       6. Bukti keuangan. Saldo minimum yang tertera di bukti keuangan adalah uang kuliah tahun pertama + biaya hidup selama 9 bulan dan harus mengendap selama 28 hari berturut-turut (kalau memakai poin a, b, atau c). Mengendap bukan berarti tidak boleh berkurang atau bertambah. Boleh berkurang asalkan jangan sampai dibawah dana minimum walaupun hanya sehari saja.
a.       Buku tabungan/
b.      Sertifikat deposito/
c.       Rekening koran/
d.      Guarantee letter (kalau beasiswa)
7.       7. Surat referensi dari bank (original). Di dalamnya harus tertera nama, nomor rekening, sejak kapan menjadi nasabah, dan jumlah uang yang ada dalam rekening saat surat dikeluarkan.
8.       8. Surat pernyataan penanggung biaya & pernyataan penghasilan rata-rata per tahun (english + materai 6000)
9.       9. Surat pernyataan dari student berisi tujuan ke UK (english + materai 6000)
10.   10. Surat  keterangan kerja orangtua dari institusi yang bersangkutan (berisi nama, jabatan, lama bekerja, alamat, telepon kantor) atau SIUP/SIP/Akte pendirian perusahaan jika orangtua wiraswasta.
11.   11. Akte lahir dan kartu keluarga (asli + copy + translation)
12.   12. Ijazah + transkrip (asli + copy + translation)
13.   13. TB certificate (sertifikat bebas TBC)

*Nomor 7, 8 dan 10 tidak perlu kalau beasiswa.
Nah, sudah lihat kan dokumen yang perlu disiapkan? Sekarang saatnya saya menceritakan pengalaman saya dari Padansidimpuan ke Jakarta demi mendapatkan stempel visa di paspor saya.

Pertama sekali tentu saja siapkan semua berkas yang bisa saya siapkan sendiri seperti paspor, ijazah, transkrip, dkk. Setelah itu saya mengurus bank reference karena saya kuliah dibiayai orangtua saya. Tidak lama, sekitar 30 menit saja kok. Tapi pas saya surfing blog ada yang bilang tergantung bank dan ‘sedekat’ apa kita dengan pegawai yang membuatnya. Bisa jadi satu hari baru selesai. Ntah lah ya, nasib anak soleh ya 30 menit selesai, haha. Jangan lupa orangtua yang kita pakai bukti keuangannya yang harus datang ke bank, tidak boleh nitip! Pihak bank akan minta buku tabungan dan ktp pemilik soalnya. Pastinya kita juga harus ikut karna nanti si mas /mbak pegawai bakal nanya-nanya soal isi suratnya mau dibuat gimana. Waktu itu saya datang sama mama, dan si mas nya nanya ini buat universitas mana? Ditujukan ke siapa? Coba lihat dulu yang saya buat ini manatau nanti ada yang kurang. Itu sebabnya kita mesti ikut ke tempat untuk cek suratnya sudah pas atau belum.

Nah sekarang isi form aplikasi. Sebelum itu, mulai Juni 2015 UK menetapkan bahwa applicant yang akan menetap lebih dari 6 bulan diwajibkan membayar IHS atau semacam asuransi kesehatan. Waktu saya apply, pembayaran IHS dan pengisian form aplikasi masih dipisah. Tapi semenjak Juli, urusan IHS dan pengisian form dijadikan satu di situs yang sama. Makanya tetep update ya, guys! Jangan sampai ada yang missed infonya.

 Setelah selesai bayar IHS, saya isi form aplikasi, kemudian saya diminta memilih lokasi pengambilan BRP (Biometric Residence Permit). Nah, mulai 2015 ini juga (banyak yang baru di 2015 haha) visa yang tertempel di paspor hanya bersifat sementara saja. Visa hanya akan valid selama 30 hari karena kita akan diberikan BRP kalau sudah sampai di UK. Diberikan waktu 10 hari semenjak kedatangan di UK untuk mengambil BRP. BRP sendiri akan valid selama masa studi + 4 bulan dan inilah yang menjadi KTP kita selama bermukim di UK. Dimana ngambilnya? Kalau sudah siap isi form aplikasi kita ditanya mau ngambil dimana. Tergantung sih. Kalau universitas memang meminta agar kita mengambil disana, berarti masukkan kode universitas. Nanti kita ambil BRP disana. Tapi kalau tidak, ya siap-siap ngambil BRP di kantor pos, haha. Nggak ada bedanya kok, nanti juga diminta masukin kodekantor pos yang dituju.

Setelah selesai isi form dan pilih BRP location, saatnya pilih tanggal  dan jam submit dokumen. Kalau sudah fixed, lanjut ke pembayaran aplikasi (online only, gabisa bayar cash kalau di Jakarta. Tapi kalau mau submit berkas di Bali bisa cash). Print and DONE! Jangan lupa tandatangan ya.

Yak, sekarang tinggal TB check di Jakarta. Untuk TB check ini kita harus book dulu. Gabisa asal datang ke rumah sakit terus minta check, nanti malah disembur sama pak satpam, justkidding lol. Rumah sakit  yang dipercaya oleh UK embassy untuk check ini adalah RS Premier Jatinegara dan RS Premier Bintaro. Telpon dulu ke sana, nanti dia kaya nelpon cs gitu pake-pake nomor, tekan ini tekan itu. Pilih medical check up (lupa tekan nomor berapa), karna mau nunggu sampe tombol berapapun gabakal ada pilihan TB check. Nanti mbaknya akan minta identitas diri trus nanya maunya tanggal berapa. Kalau ternyata masih ada spot kosong berarti kita bisa datang di tanggal tersebut. Setelah itu mbaknya  bilang datang jam berapa sekalian bawa 2 paspoto latar biru 4x6 sebanyak 2 lembar. Booked!!

Sebelum berangkat ke Jakarta saya kembali ke IDP Medan sekali lagi untuk memastikan bahwa dokumen sudah lengkap (kecuali TB certificate). Setelah approved dari sana saya langsung terbang ke Jakarta.
Saya sampai ke Jakarta pada hari Minggu, 26 Juli 2015. Saya menginap di hotel, mau nginep di kosan teman belum pada balik karena pada saat itu teman yang tinggal di Jakarta masih berlebaran ria di kampungnya masing-masing. Senin pagi saya berangkat menuju RS Premier Jatinegara untuk TB check. Disana saya tanya sama pak satpam nya kalo mau TB check lapor kemana. Dia nunjukin kita harus kemana sambil ngasih nomor antrian. Setelah nomor antrian kita dipanggil langsung daftar sama mbak-mbaknya. Kita disuruh ngisi formulir trus bayar. Kalo udah selesai kita disuruh naik ke lantai 7. Disini kita ngisi data yang akan tertulis di sertifikat nantinya. Selain itu ada form persetujuan dan checklist gejala-gejala TB. Kalo emang nggak ada TB seharusnya semua dijawab NO, haha. Disini juga kita sekalian ngasih paspoto 2 lembar untuk ditempel di sertifikat.

Nah, kegalauan saya dimulai ketika ngisi data untuk sertifikat. Ada ‘alamat’ yang harus diisi dan si mbak bilang kalau alamat ktp dan paspor beda tulis sesuai paspor saja. Sedangkan alamat yang saya tulis di aplikasi visa online saya buat sesuai ktp. Saya langsung ketakutan setengah mati. Saya baru sadar ternyata alamat paspor dan ktp saya berbeda. Kenapa saya takut? Banyak orang yang bilang perbedaan sedikit saja di salah satu dokumen bisa membuat pengajuan visa kita ditolak. Sepanjang proses TB check saya jadi tidak konsen. Pikiran saya menjalar kemana-mana. Bagaimana kalau ditolak hanya karena perbedaan alamat. Nggak lucu kalau mesti apply visa lagi dari awal dan mesti bayar lagi, huaaaaa. Sudahlah, saat itu Cuma bisa pasrah.

Kegalauan nambah saat si mbak bilang hasil bisa diambil 2 hari kemudian, KALAU mereka tidak menemukan keanehan dari hasil rontgen. Jika ini terjadi mereka akan menelepon kita keesokan harinya untuk melakukan pemeriksaan lanjutan yaitu tes sputum atau dahak yang akan dilakukan 3 hari berturut-turut setiap pagi. Jadi tiap pagi sehabis bangun tidur (tanpa minum tanpa kumur-kumur) nantinya kita akan diminta langsung ke rumah sakit untuk nyetor dahak doang. Hasilnya bisa ketahuan 6 minggu setelah pemeriksaan. BAYANGKAN! Bagaimana kalau ternyata hasil saya tidak bagus dan harus menjalani prosedur menyiksa tersebut. Bisa-bisa gagal ke UK tahun ini, hiks hiks.

Oke, kembali ke topik awal. Setelah ngisi semua berkas yang dikasih sama mbaknya, kita akan dikasih gelang penanda untuk antri rontgen paru trus pindah tempat lagi karna rontgen nya dilakukan di ruang yang berbeda lagi. Heboh memang.

Pas di ruang rontgen nantinya si mbak akan kasih petunjuk musti ngapain selama prosesnya berlangsung. Waktu itu saya disuruh buka baju trus menghadap ke mesinnya. Kita berdiri, bukan berbaring haha. Aba-aba nya Cuma tarik napas dalam-dalam, tahan, lepaskan, gitu aja berulang-ulang sampe mereka dapat foto yang pas haha. Ga sampe 5 menit udah selesai. Ya, memang administrasinya yang lama. Isi ini isi itu, padahal rontgennya ga sampe 5 menit huhu. Abis itu pulang. Oh ya kita dikasih souvenir gelas dari RS nya hehe.
Sesampainya di hotel pikiran negatif kembali muncul. Gimana kalo besok dapat telpon dari RS, gimana kalau nanti visa ditolak, semua kemungkinan-kemungkinan mengerikan saya pikirkan dan betul-betul buat galau maksimal. jiwa tak tenang sampai keesokan harinya di malam hari tak kunjung ada telpon dari RS. Alhamdulillah berarti hasil aman. Hilang satu beban pikiran, fiuh.

Rabu, 29 Juli saya kembali ke RS untuk ambil hasilnya. Cukup kembali ke lantai 7 tempat isi data sertifikat TB nanti disana kita tunjukkan bukti pembayarannya. Selesai. Jangan lupa scan atau copy serifikatnya untuk jaga-jaga.

Kamis saya bersemedi di hotel kembali menggalaukan mengenai perbedaan alamat di paspor dan form aplikasi online. Tapi apa mau dikata semua sudah terlanjur dan besoknya tinggal submit. Yassalam, saya serahkan kepadan Yang Maha. Pas saya cek dokumen lagi ternyata ada yang kelupaan. Print out appoinment! Saya belum punya. Ini juga ketahuan pas browsing soal perbedaan-perbedaan isi dokumen untuk apply visa , larinya malah nemu proses pengajuannya. Saya chat teman saya yang tahun ini juga akan ke UK untuk kuliah dan visa nya memang sudah siap. Dia bilang print out appoinment memang perlu ditujukkan pas nanti mau masuk vfs nya. Untung saja di dekat hotel saya menginap ada warnet. Saya langsung ke sana untuk print. Akhirnya lengkap sudah semua persiapan tempur esok hari.

Jumat, 31 Juli 2015 saya datang ke VFS untuk submit dokumen sekalian biometric scan. VFS ada di kuningan city mall. Mall nya besar tapi sepi. Mungkin karna saya datang jam 10 kali ya, haha. VFS UK gabung dengan Aussie dan New Zealand juga. Pas masuk ke VFS nya saya tunjukin appoinment ke pak satpam dan saya disuruh keluar lagi karna appoinment saya jam 10.30. applicant hanya boleh datang paling cepat 10 menit sebelum waktunya, berarti jam 10.20. jadilah saya keliling-keliling tak menentu di mall super besar itu. Sebenarnya ada tempat duduk melingkar di sekitar situ tapi penuh. Kalau saya perhatikan sih yang duduk di sana adalah orang-orang yang mau apply visa juga. Kelihatan dari berkas-berkasnya, haha.

Jam 10.20 saya langsung kembali ke vfs. Saya tunjukkan paspor dan appoinment saya pada pak satpam dan akhirnya diizinkan masuk. Setelah itu saya diberikan nomor antrian sama mbak yang jaga di pintu. Di dalam ruangan, nanti akan di sambut oleh mas dan mbak yang duduk di front desk untuk ngasih lembar checklist. Lembar ini berguna untuk mengurutkan berkas yang kita punya. Mereka akan suruh kita susun berkas sendiri di kursi tunggu antrian. Susun saja berdasarkan urutan yang diberikan di daftar sekaligus beri tanda check kalau memang punya berkasnya. Kalau tidak ada ya jangan kasih tanda check haha. JANGAN LUPA FOTOCOPY JUGA DIURUTKAN SEPERTI YANG DI DAFTAR DAN DIPISAH DARI ASLINYA KARNA NANTI AKAN DITEMPATKAN DI AMPLOP YANG BERBEDA. Kalau ada yang tidak tahu nanti ada petugas yang jalan-jalan untuk memastikan kita sudah susun berkasnya, tanya saja sama mereka. Jangan pakai gadget di dalam ruangan untuk nunggu giliran kalau ga mau malu. Nanti ditegur sama pak satpam atau petugas di sana haha. Soalnya waktu itu ada ibu-ibu yang nelpon di dalam ruangan, langsung saja pak satpam melancarkan aksinya.

Nunggu di dalam ruangan ga lama kok. 5 menit antri sambil beres-beres berkas saya langsung dipanggil. Petugas akan nanya apakah sudah siap diurutkan berkasnya. Waktu itu saya belum siap jadi saya urutkan di depan petugasnya. Setelah siap, saya tunjukkan berkas saya sekaligus daftar checklist nya. Petugas akan mencek apakah semua sudah pas. Setelah itu dia akan simpan berkas kita dan nanya apakah kita mau track aplikasi lewat sms dengan bayar 25ribu. Waktu itu saya dengan polosnya nanya, ‘berarti nanti pulsa kita kepotong 25rbu ya mbak?’. Bukan, bukan seperti itu rezaaaaaaaa haha. Jadi kita langsung bayar cash 25ribu sama petugas terus nanti dikasih formulir lagi untuk data track dikirim ke nomor mana dan email mana. Selain itu kita juga akan dikasih bukti submit dokumen yang akan kita gunakan untuk mengambil kembali dokumen kita saat visa sudah selesai diproses. JANGAN HILANG!

Setelah itu kita disuruh antri lagi untuk biometric scan. Nggak lama juga kok nunggunya. Ga sampe 5 menit saya sudah dipanggil lagi untuk masuk ke ruangan biometric. Di dalam saya scan jari, paspoto (INI YANG DIPAKAI DI VISA BUKAN YANG KITA KASIH SAAT SUBMIT BERKAS, KECEWA SAYA SUDAH POTO BAGUS-BAGUS DI FOTO STUDIO TERNYATA BUKAN ITU YANG DIPAKAI, hiks hiks), trus tanda tangan. Selesaaaaaiiiii!!!!! Saya selesai sekitar jam 11 dan langsung pesan tiket pesawat lagi, pulang ke hotel, packing, dan terbang kembali ke Medan.

Saya nggak bisa langsung pulang ke Padangsidimpuan karna masih harus ngasih bukti submit dokumen ke IDP biar mereka yang ambilkan berkas saya. Kesalnya waktu itu hari jumat dan saya sampai malam hari sedangkan kantornya buka hari Senin. Nambah 2 malam lagi deh di Medan. Senin saya langsung ke IDP dan malamnya kembali ke Padangsidimpuan, fieuhh. Panjang memang perjalanan mengurus visa ini, musti sabar.
Di rumah, saya kembali memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Saya sampai surfing blog orang soal perbedaan alamat di aplikasi dan paspor. Ada yang bilang itu bisa buat visa ditolak ada yang bilang nggak karna itu Cuma info tambahan di halaman belakang paspor. Yang di cek itu Cuma halaman depan yang isinya nama, ttl, nomor paspor, dll. Adal lagi yang bilang kalau paspor kosong bisa ditolak karna kita belum ada pengalaman ke luar negeri. Paspor saya memang kosong dan itu buat saya takut. Bahkan ada yang punya sejarah perjalanan luar negeri yang banyak tapi tetap ditolak. Satu lagi, tanda tangan saya di KTP berbeda dengan yang di paspor. Saya memang melampirkan fotocopy KTP sebagai salah satu dokumen saya. Ketakutan mulai menggerogoti dan saya tidak tenang. Tidur tidak tenang, jalan sama teman-teman juga ga bisa dinikmati karna kepikiran terus.

Rabu, 12 Agustus, saya dapat email dari UK Visa di Manila kalau aplikasi saya sudah di proses dan berkas sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Ketakutan semakin menjadi-jadi. Kamis dan Jumat berlalu, tak kunjung datang sms dari VFS Jakarta bahwa mereka sudah menerima berkas saya. Belum lagi senin itu 17 Agustus, saya harus menunggu lagi hingga selasa. Selasa siang sms tak kunjung menghampiri hp saya. Tiba-tiba agen dari IDP nanya soal progressnya. Saya bilang baru dapat email itu. Dia minta emailnya biar dia forward ke IDP Jakarta untuk di track langsung. Sore harinya saya beru dapat sms dari VFS kalau berkas saya sudah diambil. Saya langsung kirim sms tersebut ke agen saya untuk memastikan. Dia bilang dokumen saya memang sudah dijemput oleh IDP Jakarta ke VFS dan sudah dikirim ke Medan. Jantung berdetak nggak karuan, saya langsung nanya agen saya apakah visa diapprove atau direject. Ternyata dia juga nggak tahu, yang jelas berkas saya sedang otw Medan dan kamis sudah bisa diambil. Aduuhhh, harus nunggu lagi sampai Kamis untuk tahu kejelasan status visa saya. Agen saya bilang nggak usah khawatir, seharusnya visa saya diapprove karna tidak ada kabar dari IDP jakarta kalau visa nya direject. Oke, saya sedikit optimis dengan kata-kata agen saya tersebut. Semoga benar yang dia bilang.

Kamis, 20 Agustus sekitar pukul 11 saya dikabari oleh agen saya kalau berkas sudah sampai di kantor mereka dan sudah bisa diambil. Melihat isi chat nya itu saya langsung deg-degan lagi, kali ini berdegup kencang luar biasa (haha lebay). Saya bilang saya masih di Padangsidimpuan dan akan saya ambil minggu depan. Trus saya tanya apakah approved or rejected. Nunggu balesan dari dia itu nyiksa luar biasa. Bukan karna dia balesnya lama tapi karna penasaran isi balesan dari dia itu apa. Beberapa detik setelah saya kirim pesan itu dia balas: di APPROVE ya..


Oh Tuhan, Alhamdulillah ya Allah. Senang sekali saya pas lihat balasan itu. Akhirnya saya bisa ke UK untuk lanjut S2. 

0 komentar:

Poskan Komentar