I made this widget at MyFlashFetish.com.

Selasa, 26 April 2011

Perbedaan Psikolog Pendidikan dengan Psikolog Sekolah

Psikolog Pendidikan
Seorang psikolog pendidikan berkaitan dengan membantu anak-anak atau remaja yang mengalami masalah dalam pengaturan pendidikan dengan tujuan meningkatkan proses belajar mereka.Tantangan dapat mencakup masalah-masalah sosial atau emosional atau kesulitan belajar. Pekerjaan dalam lingkup individual atau kelompok; menasihati guru, orang tua, pekerja sosial dan profesional lainnya.


Kinerja melibatkan penilaian dari pengamatan anak menggunakan wawancara dan bahan u
ji. Mereka menawarkan berbagai intervensi yang tepat seperti belajar program dan kerja kolaboratif dengan guru atau orang tua. Pendidikan psikolog juga memberikan pelatihan in-service untuk guru dan profesional lain pada isu-isu seperti perilaku dan manajemen stres. Pekerjaan juga dapat melibatkan penelitian dan memberikan nasihat mengenai ketentuan dan kebijakan pendidikan.

Tugas mereka biasanya meliputi:
·         menilai belajar dan kebutuhan emosional dengan mengamati dan konsultasi dengan tim multi-lembaga untuk memberikan saran tentang pendekatan terbaik danketentuan untuk mendukung pembelajaran dan pengembangan;
·         mengembangkan dan mendukung program pengelolaan terapi dan perilaku;
·         merancang dan mengembangkan kursus untuk orang tua, guru dan lain-lain yang terlibat dengan pendidikan anak-anak dan remaja pada topik-topik seperti bullying;
·         merancang dan mengembangkan proyek-proyek yang melibatkan anak-anak dan kaum muda;
·         menulis laporan untuk membuat rekomendasi formal tentang tindakan yang akan diambil, termasuk pernyataan formal;
·         menasihati, negosiasi, membujuk dan mendukung guru, orangtua dan professional pendidikan lainnya;
·         menghadiri konferensi kasus yang melibatkan tim multidisipliner tentang cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan sosial, emosional, perilaku dan pembelajaran anak-anak dan kaum muda dalam perawatan mereka;
·         mengutamakan efektivitas: konteks dan lingkungan yang mempengaruhiperkembanganananak dipandang sebagai semakin penting;
·         penghubung dengan profesional lain dan memfasilitasi pertemuan, diskusi dan kursus;
mengembangkan dan meninjau kebijakan-kebijakan;
·         melakukan penelitian aktif;
·         merumuskan intervensi yang berfokus pada penerapan pengetahuan, keterampilan dan keahlian untuk mendukung inisiatif lokal dan nasional;


Psikolog Sekolah
Seorang psikolog sekolah adalah jenis psikolog yang bekerja dalam sistem pendidikan untuk membantu anak anak dengan masalah emosional, social dan akademik. Tujuan dari psikologi sekolah adalah untuk berkolaborasi dengan orang tua, guru, dan siswa untuk mempromosikan lingkungan belajar yang  sehat yang berfokus pada kebutuhan anak-anak.

Psikolog sekolah bekerja dengan masing-masing siswa dan kelompok siswa untuk mengatasi masalah perilaku, kesulitan akademis, cacat dan isu-isu lainnya. Mereka juga bekerja dengan guru dan orang tua untuk mengembangkan teknik untukmenangani dengan rumah dan perilaku kelas. Tugas lainnya termasuk siswa pelatihan, orangtua dan guru tentang bagaimana mengelola situasi krisis dan masalah penyimpangan

Menurut National Association of Sekolah Psikologi (NASP), ada lima wilayah utama di mana psikolog sekolah menyediakan jasa: (1) konsultasi, (2) evaluasi, (3) intervensi(4) pencegahandan (5) penelitian dan perencanaan . Sekolah psikolog juga bertindak sebagai pendidik oleh orang lain membantu memahami lebih lanjut tentang perkembangan anak, masalah perilaku dan teknik perilaku manajemen.

Senin, 25 April 2011

Apa Saja Asas-asas Dalam Bimbingan dan Konseling?

Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut.
1.      Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang peserta didik (konseli) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
2.      Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (konseli) mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang diperlukan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
3.      Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta didik (konseli) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri peserta didik yang menjadi sasaran layanan/kegiatan. Agar peserta didik dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahuu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
4.      Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta didik (konseli) yang menjadi sasaran layanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan layanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong peserta didik untuk aktif dalam setiap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
5.      Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: peserta didik (konseli) sebagai sasaran layanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi siswa-siswa yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.
6.      Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran layanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan peserta didik (konseli) dalam kondisinya sekarang. Layanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
7.      Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
8.      Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
9.      Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.
10.  Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis layanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
11.  Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.         

Selasa, 19 April 2011

Siapa itu Konselor Pendidikan?

Konselor pendidikan adalah konselor yang bertugas dan bertanggungjawab memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan. Konselor pendidikan merupakan salah satu profesi yang termasuk ke dalam tenaga kependidikan seperti yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentangSistem Pendidikan Nasional maupun Undang-undang tentang Guru dan Dosen.
Konselor pendidikan semula disebut sebagai Guru Bimbingan Penyuluhan (Guru BP). Seiring dengan perubahan istilah penyuluhan menjadi konseling, namanya berubah menjadi Guru Bimbingan Konseling (Guru BK). Untuk menyesuaikan kedudukannya dengan guru lain, kemudian disebut pula sebagai Guru Pembimbing.
Setelah terbentuknya organisasi profesi yang mewadahi para konselor, yaitu Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN), maka profesi ini sekarang dipanggil Konselor Pendidikan dan menjadi bagian dari asosiasi tersebut.
Latar Belakang Dibutuhkannya Konselor Pendidikan
§  Kehidupan demokrasi: Guru tidak lagi menjadi pusat dan siswa tidak hanya menjadi peserta pasif dalam kegiatan pendidikan. Guru hanya membantu siswa untuk dapat mengambil keputusannya sendiri.
§  Perbedaan individual: Pembelajaran yang umumnya dilakukan secara klasikal kurang memperhatikan perbedaan siswa dalam kemampuan dan cara belajarnya sehingga beberapa siswa mungkin akan mengalami kesulitan.
§  Perkembangan norma hidup: Masyarakat berubah secara dinamis. Demikian pula dengan berbagai norma hidup yang ada di dalamnya. Setiap orang harus bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan tersebut.
§  Masa perkembangan: Seorang individu mengalami perkembangan dalam berbagai aspek dalam dirinya dan perubahan tuntutan lingkungan terhadap dirinya. Diperlukan penyesuaian diri untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut.
§  Perkembangan industri: Seiring dengan perkembangan teknologi yang cepat, industri juga berkembang dengan pesat. Untuk memiliki karier yang baik, siswa harus bisa mengantisipasi keadaan tersebut.
Bidang Layanan
Bidang layanan konselor pendidikan di sekolah adalah
§  Bimbingan pribadi-sosial: untuk mewujudkan pribadi yang taqwa, mandiri, dan bertanggungjawab.
§  Bimbingan karier: untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pendidikan.
§  Bimbingan belajar: untuk mewujudkan pribadi pekerja yang produktif.
Jenis Layanan
Layanan yang diberikan kepada peserta didik di sekolah meliputi:
§  Layanan orientasi: memperkenalkan seseorang pada lingkungan yang baru dimasukinya, misalnya memperkenalkan siswa baru pada sekolah yang baru dimasukinya.
§  Layanan informasi: bersama dengan layanan orientasi memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan, atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki. Informasi yang dapat diberikan di sekolah di anataranya: informasi pendidikan, informasi jabatan,informasi tentang cara belajar yang efektif dan informasi sosial budaya.
§  Layanan bimbingan penempatan dan penyaluran: membantu menempatkan individu dalam lingkungan yang sesuai untuk perkembangan potensi-potensinya. Termasuk di dalamnya: penempatan ke dalam kelompok belajar, pemilihan kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti, penyaluran ke jurusan/program studi, penyaluran untuk studi lanjut atau untuk bekerja.
§  Layanan bimbingan belajar: membantu siswa untuk mengatasi masalah belajarnya dan untuk bisa belajar dengan lebih efektif.
§  Layanan konseling individual: konseling yang diberikan secara perorangan.
§  Layanan bimbingan dan konseling kelompok: konseling yang dilaksanakan pada sekelompok orang yang mempunyai permasalahan yang serupa.
Fungsi Layanan
§  Pemahaman: dipahaminya diri klien, masalah klien, dan lingkungan klien baik oleh klien itu sendiri, konselor, maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan.
§  Pencegahan: mengupayakan tersingkirnya berbagai hal yang secara potensial dapat menghambat atau mengganggu perkembangan kahidupan individu.
§  Perbaikan: membebaskan klien dari berbagai masalah yang dihadapinya.
§  Pemeliharaan dan Pengembangan: memelihara segala sesuatu yang baik pada diri individu atau kalau mungkin mengembangkannya agar lebih baik.
Pada saat ini fungsi Layanan bertambah dengan adanya fungsi Mediasi dan fungsi Advokasi, walau hanya pengukuhan atas layanan yang selama ini telah dilakukan hal tersebut menunjukkan bahwa Ilmu Konseling berkembang.
Dasar Hukum,
Berdasarkan surat keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor 0433/p/1993 dan No. 25/1993, penghargaan jam kerja konselor ditetapkan 36 jam per minggu dengan beban tugas meliputi penyusunan program (dihargai 12 jam), pelaksanaan layanan (18 jam) dan evaluasi (6 jam). Konselor yang membimbing 150 orang siswa dihargai 24 jam, selebihnya dihargai sebagai bonus kelebihan jam dengan ketentuan tersendiri.


Selasa, 12 April 2011

Apa Perbedaan Mainstreaming dan Inklusi?

Setiap manusia memiliki hak nya masing-masing sebagai bawaan dari lahir. Kita berhak untuk bersosialisasi, mengeluarkan pendapat, hidup, bekerja, pendidikan, dan lain sebagainya. Namun apa daya jika ternyata ada orang-orang yang memiliki keterbatasan ataupun ketidakmampuan seseorang untuk menjalankan haknya itu. Dampak keterbatasan yang akan saya coba bahas disini adalah pada pendidikan.
Banyak anak-anak yang mengalami keterbatasan menghadapi beberapa kesulitan dalam proses pendidikannya. Ada anak yang tuli, buta, retardasi mental, dan lain sebagainya sering sekali mengalami hambatan untuk mengenyam pendidikan. Namun semakin lama, orang-orang semakin menyadari pentingnya pendidikan untuk mereka (pendidikan anak berkebutuhan khusus) karena banyak dari mereka yang memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan dan sangat disayangkan bila dibiarkan begitu saja.
Mainstreaming, integrasi dan inklusi merupakan penjabaran situasi dimana anak berkelainan/dengan kecacatan diperbolehkan belajar bersama dengan teman sebayanya tanpa kecacatan dengan anggapan mereka dapat menyesuaikan kepada sistem maintream dan peraturannya (mainstreaming/integrasi). Hanya ‘inklusi’ mencerminkan hak asasi manusia dan isu keadilan sosial dari pendidikan eksklusif mungkin akibat kebijakan dan praktek yang kaku dalam sistem pendidikan mainstream.
Mainstream adalah sistem pendidikan yang menempatkan anak-anak cacat di sekolah-sekolah umum, hanya jika mereka dapat mengikuti kurikulum akademis yang berlaku, dan guru juga tidak harus melakukan adaptasi kurikulum. Mainstream kebanyakan diselenggarakan untuk anak-anak yang sakit yang tidak berdampak pada kemampuan kognitif, seperti epilepsi, asma dan anak-anak dengan kecacatan sensori (dengan fasilitas peralatan, seperti alat bantu dengar dan buku-buku Braille) dan juga mereka yang memiliki tunadaksa.
Integrasi berarti menempatkan siswa yang berkelainan dalam kelas dengan teman-teman sebaya mereka yang tidak memiliki kecacatan. Sering terjadi di sekolah integrasi dimana anak-anak hanya mengikuti pelajaran-pelajaran yang dapat mereka ikuti dari gurunya, dan untuk kebanyakan mata pelajaran akademis, anak-anak ini menerima pelajaran pengganti di kelas berbeda, terpisah dari teman mereka. Penempatan terintegrasi tidak sama dengan integrasi pengajaran dan integrasi sosial, karena ini sangat tergantung pada dukungan yang diberikan sekolah (dan dalam komunitas yang lebih luas).
Inklusi adalah sebuah filosofi pendidikan dan sosial. Mereka yang percaya inklusi meyakini bahwa semua orang adalah bagian yang berharga dalam kebersamaan masyarakat, apapun perbedaan mereka. Dalam pendidikan ini berarti bahwa semua anak, terlepas dari kemampuan maupun ketidak mampuan mereka, latar belakang sosial-ekonomi, suku, latar belakang budaya atau bahasa, agama atau jender, menyatu dalam komunitas sekolah yang sama.
Filosofi Inklusi adalah mengenai; kepemilikan, keikutsertaan dalam komunitas sekolah dan keinginan untuk dihargai. Lawan katanya adalah eksklusi yang berarti penolakan, keterbatasan dan ketidakberdayaan dan sering mengarah kepada frustasi dan kebencian. Inklusi dan Pendidikan Inklusif tidak mempermasalahkan apakah anak dapat mengikuti program pendidikan, namun melihat pada guru dan sekolah agar dapat mengadaptasi program pendidikan bagi kebutuhan individu.

Santrock, John W. (2004). Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Kencana:Jakarta

Kamis, 07 April 2011

Fenomena Pendidikan



Fenomena Homeschooling
Homeschooling atau sekolah rumah sekarang kerap menjadi bahan perbincangan hangat disekitar kita. Ada yang karena sibuk, alas an ini berlaku bagi anak-anak yang bekerja seperti artis, seniman, karateka, dan lainnya. Ada yang karena alas an bullying, tidak mendapat lingkungan social yang baik, jenih dan alas an alas an lainnya. Namun apakah homeschooling ini berdampak cukup baik bagi psikologis seorang anak? Apakah cukup baik bagi perkembangan pendidikan kita?
Dari sumber yang ada, diberitakan seorang anak bernama Gagah mengalami ketidaknyamanan dengan sekolah formalnya. Ia berpindah ke homeschooling dan hasilnya memang lebih baik. Menurut orang tuanya kini Gagah lebih ceria dan kreatif, berani dan inovatif. Kedua orangtua Gagah kini sungguh mendukung pelaksanaan home schooling.
Dipandang dari psikologi pendidikan, homeschooling berdasar pada learner centered dan paham konstruktivisme.  Dimana di homeschooling anak bebas menentukan mata pelajaran, mereka anak searching dan ini sudah bermain dengan e-learning. Diawasi oleh para tentor, mereka akan mencari dan mendapatkan informasi yang banyak dan lebih intense daripada anak sekolah formal. Mereka ujian dan ulangan lewat internet. Paham konstruktivisme dapat dilihat dari bagaimana anak yang dibuat menjadi aktif dan terarah. Kondtruktif artinya bersifat membangun, dengan keadaan serba sendiri anak akan membiasakan diri untuk belajar lebih mandiri dan membagun potensi yang ada selama ini yang kiranya tidak dapat tersalurkan secara maksimal disekolah formal.
Dari psikologi keluarga mungkin kurang baik karena anak tidak biasa mengahadapi banyak kejadian  layaknya anak yang bersekolah formal. Anak anak homeschooling rata-rata akan menjadi lebih tergantung pada keluarga mereka karena keluarga adalah lingkungan social yang setiap saat ia temui. Anak juga akan  kurang matang berhadapan dengan keluarga lain yang jauh karena ia kurang besosialisasi. Walaupun di homeschooling memang ada pertemuan sesekali , namun itu tidak mencukupi tugas perkembangan mereka untuk beradaptasi dan mengenal banyak karakter. Dari pamdangan lain, dukungan keluarga sangat mampu mensupport mereka yang mengalami traumatis disekolah formal. Dengan dukungan kelularga untuk homeschooling ini kepercayaan diri anak akan bangkit lagi , seperti cerita si Gagah.
Dari psikologi bimbingan sekolah teori asimilasi untuk informasi homeschooling yang masuk ,ini bisa digunakan. Orang tua Gagah mendapatkan informasi itu dan mencoba menyeimbangkannya dengan kehidupan si Gagah. Ternyata memang cocok homeschooling ini bisa mengurangi rasa ketidaknyamanan anaknya yang hadir setiap ia bersekolah formal.

Obsesi Jadi Juara Kelas
Kalau dilihat dari sudut pandang psikologi pendidikan, anak ini memiliki motivasi yang tinggi. Motivasi merupakan suatu dorongan internal dalam diri yang mempengaruhi anak untuk berpikir, merasa dan bertindak. Ketekunan dalam diri anak membuat dia sangat antusias untuk menjadi sang juara. Dia juga memiliki motivasi internal. Dia ingin menjadi juara kelas karena memang dia ingin, bukan karena ada reward yang ia akan dapatkan ketika dia benar-benar mendapatkan tujuannya.
Dari pandangan pendidikan keluarga pun dia sangat beruntung. Ibunya seorang guru dan ayahnya seorang yang juga berpendidikan baik. Hal itu membuat proses pencapaian tujuannya semakin lancar. Dari psikologi keluarga ini merupakan hal yang sangat baik. Dia diberi disiplin yang benar-benar ia ikuti sehingga dapat mencapai obsesinya.
Bimbingan belajar dalam keluarga pun sangat berpengaruh. Dia didukung oleh cara didik kombinasi dari kedua orangtuanya. Diberi jadwal belajar yang sangat baik sehingga memudahkan proses belajarnya, walaupun sebenarnya memang dasar motivasinya yang baik. Bimbingan sekolahnya pun juga akan sangat berpengaruh. Di sekolah dia keinginan kuatnya ditangkap oleh sang guru yang juga sangat mendukungnya. Sampai-sampai dia dijadikan perwakilan sekolah untuk olimoiade sains. Itu akan meningkatkan keinginannya apalagi adanya suatu apresiasi yang sebenarnya tidak terlalu dipedulikannya karena sudah adanya motivasi internal tadi.

Murid ‘Menamai’ Guru                                                   
Dari psikologi pendidikan, sebenarnya hal yang paling mendasari anak 'menamai' gurunya adalah karena cara mengajar guru yang kurang berkenan, masalah pribadi dengan guru, juga bisa karena saking senangnya pada si guru. Julukan ini bisa saja dengan berbagai macam, ada yang baik ada pula yang jelek. Tergantung apa alasan ataupun imej yang selama ini melekat pada gurunya.Misalnya dia anak kesayangna gurunya, dia juluki gurunya Ibu sayang atau Bapak sayang, misalnya gurunya kejam dia panggil Nenek sihir. Bukankah ini suatu fenomena yang sering kita temui di lingkungan sekolah. Hampir tiap guru di sekolah ataupun dosen di kampus pasti punya 'nama cantik' nya masing-masing.
Psikologi pendidikan keluarga melihat ini sebagai kegagalan keluarga mendidik anak untuk lebih menghargai orang-orang sekitar. Guru mungkin pada awalnya tidak tahu mengenai hal ini, namun sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai pasti akan tercium jua. Guru pasti akan mengetahui dan mengadu ke orangtua ataupun sebagainya.Ujung-ujungnya pasti berimbas ke keluarga juga bukan. Dibilanglah orangtuanya yang tidak becus mendidik anak, dibilang orangtuanya tidak memperhatikan anak, dan lain sebagianya.
Dari sudut psikologi bimbingan belajarnya sendiri, sebenarnya anak harus sering dibimbing di sekolah. Ada Bimbingan Konseling di sekolah yang sangat berguna untuk murid. Murid diarahkan untuk mengarahkan emosi dengan cara yang baik selain dengan 'menamai' guru nya. Walaupun nama yang diberi masih bagus-bagus saja seperti Ibu Cantik, dan lain-lain. Tapi tetap saja nama dari orangtua adalah nama yang paling baik untuk kita bukan? 

                                
Pendidikan Anak Indigo
Anak Indigo adalah anak yang unik. Anak indigo juga biasanya disebuut dengan anak ungu,indigo jugalah sebutan untuk warna ungubiru. Anak-anak Indigo sebagai generasi yang dilahirkan saat ini, sebagian besar berumur 12 tahun atau lebih muda. Mereka berbeda. Mereka memiliki karakteristik yang sangat unik yang membuat mereka terlihat berbeda dari generasi anak-anak yang lain. Indigo sebagai sebuah sebutan menunjukkan warna aura yang mereka bawa, yang mengindikasikan adanya chakra “Mata Ketiga”, yang menunjukkan kemampuan Psychic dan ketajaman intuisi.Mereka adalah anak-anak yang umumnya tidak mudah diatur oleh kekuasaan, tidak mudah berkompromi, emosional dan beberapa diantaranya memiliki tubuh rentan, sangat berbakat atau berkemampuan akademis baik dan mempunyai kemampuan metafisis. Anak indigo ini memiliki sensitifitas yang sangat tinggi.
Anak indigo sering sekali dikatakan “anak aneh” padahal pada kenyataannya adalah mereka mempunyai sesuatu yang lebih dari anak-anak lain. Atau bahkan ada yang mengira anak indigo anak yang mempunyai roh-roh halus didalamnya padahal pada kenyataannya anak indigo mempunyai spiritualitas yg tinngi bukan berhubungan langsung dengan roh-roh halus. Bahkan ada yang mengira ini adalah sebuah penyakit.
Pendidikan yang seharusnya didapati anak indigo jika dilihat dari psikologi pendidikan adalah pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Seperti yang tertulis di atas bahwa anak indigo adalah sesosok anak yang unik. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan anak lain ini, jelas memerlukan peran pendidikan yang khusus pula. Misalnya dia lancer berbahasa Inggris dengan logat yang kental padahal dia tidak dibesarkan di lingkungan itu. Nah, jadi walaupun dia berkelebihan dalam bidang itu bukan berarti dia tidak harus sekolah, dia harus tetap sekolah karena anak itu masih dalam tahap berkembang. Peran orangtuapun cukup penting dalam hal ini. Anak- anak seperti ini tidak sedikit yang berkesusahan dalam beradaptasi dalam lingkungan. Banyak anak berbakat yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan sekolah sehingga mereka dikatakan bermasalah seperti terkena Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder) atau autisme.
Dalam psikologi pendidikan di pendidikan anak berkebutuhan khususlah anak indigo ini seharusnya ditempatkan karena anak indigo adalah anak yang “khusus” jadi pendidikan dan cara penyampaian pendidikannya harus tepat agar anak indigo merasa jauh lebih baik dan juga peran orangtua dalam mendidik serta penyesuaian diri di dalam lingkungannya sehari-hari.