I made this widget at MyFlashFetish.com.

Tampilkan postingan dengan label Paedagogi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paedagogi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 April 2012

Action Plan

Anggota :

Konsep :  Belajar sambil bermain

Perencanaan

A.    Pendahuluan
Guru ataupun pengajar memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar dan perlu diperhatikan secara serius. Tidak hanya ilmu dan pengetahuan yang dilihat dan dipelajari seorang murid terhadap gurunya, namun sikap dan moral juga akan dicontoh oleh murid. Mengajar bukanlah suatu kegiatan yang mudah, hal ini memerlukan pengetahuan dan praktik mengajar yang baik.
Ilmu Paedagogi sangat diperlukan untuk menjadi pedoman dalam mengajar. Dalam Paedagogi, mengajar bukan hanya sebatas memiliki ilmu dan menyampaikan ilmu tersebut, namun terdapat seni Paedagogi untuk mengajar. Perlu diperhatikan juga cara menyampaikan ilmu tersebut, interaksi, improvisasi, dan ekspresi. Intinya, kegiatan pembelajaran sesungguhnya merupakan kombinasi antara ilmu dan seni.
Selain itu, tidak hanya mempelajari teori Paedagogi, namun harus mengetahui dan mempelajari praktik Paedagogi. Dengan kata lain, tidak sekadar harus dipahami, melainkan juga mengetahui bagaimana cara mengaplikasikannya. Paedagogi dapat memfasilitasi dan menjadi pedoman bagi calon guru dan juga guru ataupun pengajar.
Hal ini berhubungan dengan konsep micro teaching, dimana Micro berarti kecil, terbatas, sempit. Teaching berarti mendidik atau menajar. Micro Teaching berarti suatu kegiatan mengajar dimana segalanya diperkecil atau disederhanakan. Hal ini memberikan kesempatan bagi pengajar untuk melatih kemampuan interaksi nya dengan murid dan juga sarana untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi pengajaran yang lebih komplek yaitu kelas yang sebenarnya. Disinilah kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu menjadi seni mengajar dan mempraktikkan teori yang telah dipelajari.
Pelajaran yang diajarkan dalam kegiatan micro teaching ini adalah bahasa Inggris. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada zaman yang serba canggih ini, bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang sangat penting. Sebagian besar alat elektronik seperti komputer, ipad, dan lain sebagainya juga menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa perangkatnya.  Bahasa Inggris adalah world language yang dapat digunakan hampir di seluruh dunia. Sangat banyak keuntungan yang dapat diperoleh jika dapat menguasai bahasa Inggris, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan. Termasuk ketika searching di dunia maya, sangat banyak artikel, karya ilmiah, ataupun hasil penelitian yang ditulis dalam bahasa Inggris yang dapat menambah wawasan kita.
Anak-anak diharapkan mempunyai kesempatan mempelajari bahasa internasional ini sejak dini. Jika sejak kecil sudah dipelajari, maka akan menjadi bekal yang sangat berguna baginya setelah dewasa. Oleh sebab itulah, pelajaran yang diberikan dalam kegiatan micro teaching ini adalah bahasa Inggris. Tingkat kesulitan yang diberikan juga disesuaikan dengan kemampuan mereka. Tujuan pelaksanaan micro teaching ini salah satunya adalah agar anak dapat lebih termotivasi lagi untuk belajar bahasa Inggris setelah mereka mengetahui pentingnya bahasa Inggris untuk masa depan mereka.

B.  Landasan Teori
·            Paedagogi praktis
Penting untuk kita mengetahui bahwa Paedagogi bukan hanya sekedar kita mengetahui serta memahami pengertiannya namun bagaimana pengaplikasiannya. Nah hal inilah yang melahirkan apa yang disebutkan sebagai Paedagogi Praktis. Salah satu fungsi penelitian paedagogis adalah untuk memungkinkan guru atau pendidik memahami, menjelaskan, membela, membenarkan, dan bila perlu memodifikasi paedagogi. Tujuan ini melahirkan paedagogi praktis.

The application on our micro teaching activity
Kita semua telah mengetahui bagaimana keberadaan paedagogi itu nah sekarang tinggal bagaimana kita mengaplikasikannya. Berdasarkan kegiatan micro teaching yang kita lakukan ada beberapa pengaplikasian berdasarkan unsur paedagogis. Sebagai contoh bagaimana kita sebagai tim pengajar membentuk sebuah konsep mengajar kepada anak-anak agar mereka memahami materi ajar. Dalam hal ini, kemaren kami mengadakan beberapa tahapan untuk dapat memahami beberapa pekerjaan dalam bahasa Inggris. Kami memulai dengan:

1.      Menunjukkan media ajar
Media ajar dalam artian kami sengaja menyiapkan gambar pendukung (cth: gambar seorang pilot kemudian pada bagian bawah tertera bahasa Inggris dari Pilot yakni PILOT)
2.      Memberikan contoh cara membaca
Kami kemudian membacakan dengan jelas dan tegas bagaimana kata “PILOT” dalam bahasa Inggris dibacakan
3.      Mengajak peserta didik untuk mengulang bagaimana cara membacakan kata “PILOT”
4.      Meminta peserta didik untuk mengeja ke dalam bahasa Inggris

Nah tahapan ini kami lakukan karena penting untuk menyesuaikan dengan kemampuan peserta didik, agar tidak juga terlalu cepat dalam memberikan bahan ajar dan juga tidak terlalu lambat sehingga peserta didik mampu memahami dan mengingat untuk selanjutnya.

·               Prinsip-prinsip Proses Paedagogis
Beberapa prinsip-prisip Paedagogis adalah:
1.      Kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses paedagogis (Addine, 2001), dalam artian bahwa setiap proses paedagogis harus terstruktur. Seperti apa yang telah kami lakukan, bahwa kami membagi proses mengajar kami menjadi 3 bagian yakni:
·         Ice breaking atau pengenalan
Dalam bagian ini kami masing-masing sebagai pendidik memperkenalkan diri kemudian juga kami meminta para peserta didik untuk memperkenalkan diri mereka. Kami juga menanyakan bagaimana ketertarikan mereka terhadap pelajaran Bahasa Inggris, bagaimana nilai yang mereka peroleh di sekolah untuk setiap mata pelajaran Bahasa Inggris, dll. Hal ini kami lakukan tentunya dengan maksud agar antara kami sebagai pengajar dan para peserta didik dimulai dengan sesuatu yang ringan sehingga untuk proses selanjutnya akan menjadi lancar.
·         Memasuki materi ajar
Bagian yang kedua ini sudah kami mulai dengan materi ajar. Dimana kami mulai dengan menunjukkan media ajar (gambar), kami membacakanpronunciation atau bagaimana cara pelafalan kata-kata dalam bahasa Inggris, kemudian meminta peserta didik untuk mengeja, selanjutnya meminta mereka untuk menuliskan kalimat menggunakan kata-kata yang sudah dipaparkan sebelumnya. Peserta didik yang aktif (yang mampu menjawab, mau menulis kalimat di papan tulis) kami berikan bintang sebagai penghargaan.
·         Penutup
Pada bagian ini kami mengadakan games, nah ini adalah hal yang paling dinantikan oleh peserta didik kami. Games kami berikan untuk membukakan suatu pelajaran bagi mereka. Pada akhir dari games, kami meminta beberapa anak untuk memberikan pendapat mereka mengenai pelajaran apa yang mereka dapatkan melalui games yang kami berikan (dalam hal ini games yang kami berikan adalah estafet karet) dan para peserta didik banyak memberikan pendapat dimana games ini mengajarkan mereka untuk mengontrol emosi mereka, mengikat kebersamaan, kesabaran, dsb hingga pada bagian akhir kami mengucapkan terimakasih atas partisipasi para peserta didik pada hari itu.

2.      Adanya kekhususan atau karakteristik yang berbeda pada setiap anggota yang memiliki hak untuk dipertimbangkan dan dihormati.
Dalam proses micro teaching yang kami lakukan, terdapat beberapa anak yang sangat aktif dan bahkan ada yang sangat pemalu. Kami tentunya berusaha untuk memberikan taktik-taktik tertentu. Misalkan untuk anak yang sangat aktif, kami tidak menutup kesempatan untuk mereka mengutarakan jawaban atau komentar mereka namun pada sesi yang lain kami juga membatasi si penjawab dengan maksud agar anak lain yang belum menjawab juga mempunyai kesempatan untuk menjawab. Sedangkan untuk anak yang sangat pemalu, kami secara khusus sering menyebut nama mereka untuk menjawab atau sekedar memberikan komentar, terkadang kami juga perlu usaha yang extra untuk meminta mereka menjawab seperti membujuk mereka, mendekati kursi mereka dan meminta mereka menjawab, atau sekedar membisikkan kepada mereka kata-kata semangat kalau mereka juga mampu seperti anak-anak lain untuk menjawab pertanyaan tersebut.
3.      Istilah pendidik dan pengajar tidak dapat dipertukarkan tetapi saling melengkapi.
Prinsip ini mengarah kepada pengertian bahwa ketika seseorang menempuh pendidikan, maka ia harus menjalani proses pembelajaran yang baik.
4.      Proses paedagogis menggamit prinsip bahwa domain kognitif dan afektif tidak bisa berada dalam suasana yang kering.
Hal ini berarti bahwa proses paedagogis harus terstruktur berdasarkan kesatuan dan hubungan antara kondisi manusia. Jadi seorang peserta didik mungkin saja mempunyai pemahaman sendiri bagaimana dunia di sekitarnya dan dunianya sendiri sehingga pemahaman inilah yang tentunya akan mempengaruhi bagaimana mereka bertindak serta merasakan sesuatu.
5.      Masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi dan kepribadian saling terkait satu sama lain.

C.    Alat dan Bahan
Dalam melakukan microteaching ini, adapun alat dan bahan yang kami perlukan yaitu :
1.      Gambar (alat peraga)
2.      White Board dan Spidol
3.      Kamera digital
4.      Sedotan
5.      Karet gelang
6.      Bintang dari kertas
7.      Beberapa hadiah (reward)

D.    Peserta
Yang akan menjadi peserta dalam kegiatan microteaching ini adalah anak-anak sekolah minggu di Gereja Katolik Santa Maria Ratu Rosario (Jl. Binjai Km 8,5), yang berjumlah sebanyak 10 anak.

E.     Jadwal Kegiatan
 



F.     Taksiran Biaya
Alat dan bahan : 50.000,-
Reward            : 50.000,-  

Testimoni Pertemuan 23 April 2012


Kelas pedagogi yang diadakan pada 23 April 2012 sebenarnya dimaksudkan oleh pengampu untuk review hasil UTS dan memberikan remedial.  Memang sedikit mengganjal kedengaran untuk mahasiswa Psikologi USU karena biasanya yang mengadakan remedial hanya fakultas kedokteran. Namun pengampu mk Pedagogi menginginkan hasil maksimal dari ujian kami karena masih banyak jawaban melenceng yang sebenarnya bukan maksud dari pertanyaan. Beberapa menit berlalu kelas masih berlangsung seperti biasa. Hingga akhirnya pengampu keluar dari kelas karena kesalahan kami sendiri: tidak mau merespon setiap pertanyaan yang diajukan. Sebenarnya pengampu tidak keluar begitu saja. Beliau telah memperingatkan sebelumnya jika sekali lagi masih bertingkah seperti itu, ia akan keluar kelas. Tapi akhirnya beliau keluar kelas karena kami tetap diam tak merespon.
Kelas tadi memang benar-benar hening bagai tak berpenghuni. Ditanya sudah mengerti, diam. Ditanya ada pertanyaan, diam. Ditanya esensi soal, diam. Memang salah kami juga sebenarnya. Sudah menjadi tanggung jawab kami juga untuk diri kami sendiri. Kami harus mengungkapkan apa yang kami rasakan, kalau mengerti bilang mengerti, kalau tidak mengerti bilang tidak, kalau ditanya ya dijawab bukannya menunggu pengampu memberi tahu dari A-Z. padahal itu sangat tidak efisien. Misalnya sudah mengerti sampai P, gara-gara diam, pengampu mengira masih belum mengerti hingga beliau harus mengulang dari A atau mungkin terus melanjut materi padahal yang lain belum mengerti. Begitulah kira-kira perbandingannya. Masih untung beliau mau membuat kelas hanya untuk remedial/perbaikan nilai di tengah kesibukannya.
Tindakan yang beliau lakukan tidak salah. Saya mengerti maksud beliau melakukannya, yaitu agar kami lebih berpikir dewasa dan bertanggung jawab. Kami bukan anak-anak lagi yang harus diatur satu per satu. Jadi harus punya kesadaran sendiri terhadap hal-hal yang sebenarnya juga untuk kami hasilnya.
Jika dihubungkan dengan pedagogi, beliau telah melakukan apa yang seharusnya menjadi keewajibannya yaitu membangun keaktifan belajar, menata lingkungan edukatif, dan memotivasi belajar dengan melakukan tanya jawab mengenai esensi dari suatu hal seperti pertanyaan atau meminta kami menghubung-hubungkan segala fenomena pendidikan yang ada dengan teori agar kami tetap belajar sendiri tanpa beliau sibuk berceramah di depan kelas yang sebenarnya juga tidak efektif. Jadi bagian untuk mengingat-ingatkan kami untuk melakukan yang sebenarnya menjai tanggung jawab kami bukan tugas beliau lagi, sehingga wajar kalau beliau keluar dari kelas.

Minggu, 01 April 2012

Menjadi Guru Kreatif

Menjadi guru kreatif ternyata tidak mudah. Perlu perjuangan dan pengorbanan. Bahkan mungkin anda akan mengalami sebuah penderitaan dahulu yang akan membawa anda kepada puncak kebahagiaan dan ketenaran. 
Guru kreatif tidak pernah puas dengan apa yang ada pada dirinya. Dia terus belajar dan belajar sampai ajal menjemputnya. Baginya, menemukan sesuatu yang baru dalam pembelajaran adalah sesuatu hal yang harus dicari dan kemudian dibagikan kepada teman-teman guru lainnya. Tak mudah memang, tapi disinilah tantangannya bila kita mau terus instropeksi diri dalam pembelajaran yang kita lakukan di sekolah. Berusaha terus-menerus memperbaiki kinerjanya sebagai guru dengan terus melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajarannya. Berusahalah semaksimal mungkin memberdayakan apa yang dimiliki sekolah untuk anda gunakan dalam menunjang pembelajaran anda.  Bila kemudian anda menemukan alat bantu atau media pembelajaran yang membantu anda menyampaikan materi ke otak siswa dengan cepat, maka harus anda buktikan media itu dengan terlebih dahulu dengan melakukan PTK.
Dengan melakukan PTK anda akan menjadi guru yang kreatif. Di dalam PTK itulah akan anda dapatkan refleksi diri yang anda lakukan melalui siklus-siklus yang anda lakukan sendiri sampai anda merasa yakin bahwa yang anda lakukan telah berhasil. Penelitian kualitatif cenderung berbasis kata, misalnya hasil wawancara, sedangkan penelitian kuantitatif cenderung berbasis angka misalnya skor uji. 
Action Research di ruang kelas atau PTK merupakan panduan penting untuk semua guru kreatif yang tertarik melakukan riset di dalam ruang kelas. Penulisnya memberikan gambaran pendekatan yang mudah diikuti sehingga dapat membantu guru meningkatkan praktik profesional mereka dan mengevaluasi kebutuhan murid di sekolah. Terdapat banyak kiat praktis dan contoh proyek riset tindakan nyata dari berbagai tipe sekolah yang menjadikan PTK sebagai buku wajib bagi guru dan mahasiswa keguruan.
Menjadi guru kreatif harus mampu meneliti. Meneliti di kelasnya sendiri sehingga kualitas pembelajarannya semakin berkualitas. Banyak masalah yang bisa anda teliti, banyak masalah yang harus dicari segera solusinya. Melalui PTK anda akan mendapatkan rahasia-rahasia baru dalam khasanah ilmu pendidikan yang dapat anda kembangkan menjadi sesuatu yang berarti dalam kegiatan pembelajaran. Setiap kegiatan yang anda lakukan harus dicatat dan diamati benar bersama teman sejawat sehingga apa yang anda lakukan dalam PTK benar-benar solusi baru dalam pembelajaran di sekolah yang berujung kepada peningkatan mutu pendidikan.
Jangan biarkan diri anda menjadi guru pengeluh dan terus mengeluh karena anda tidak kreatif. Mari ciptakan khasanah ilmu pengetahuan baru dengan menjadi guru kreatif. Kalau bukan kita sendiri yang menjadi guru kreatif, lalu siapa lagi?

Guru Profesional

Ciri-Ciri Guru Profesional - Apakah anda sudah memiliki kompentensi profesional guru? Setiap profesi menuntut profesionalitas, termasuk profesi guru. Guru jelas sebuah profesi yang tergolong mulia. Penebar ilmu kebaikan bagi para siswa. Akan tetapi, sudahkah Andamenjadi guru profesional? Ketika memutuskan untuk menjadi seorang guru, minimal Anda harus memiliki keahlian tertentu sesuai standar kode keprofesian.

Jika tidak memiliki keahlian tersebut, lenyapkan saja impian menjadi seorang guru karena Anda memang tidak layak disebut guru. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa dan mampu menjadi guru. Meskipun demikian, fakta menunjukkan profesi guru dijadikan pilihan terakhir ketika sudah tidak ada pekerjaan lain.

Padahal, guru memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk membentuk dan membangun kepribadian serta kepintaran para siswa. Oleh sebab itu, profesionalitas sangat diperlukan. Berikut ini merupakan beberapa ciri guru profesional.

1. Selalu Memiliki Energi untuk Siswanya
Guru yang baik harus memberikan perhatian pada siswa saat melakukan diskusi atau percakapan di dalam maupun di luar kelas. Guru yang baik pun harus memiliki kemampuan mendengar yang baik dan saksama.

2. Memiliki Tujuan Jelas untuk Pelajaran
Setiap pelajaran yang diajarkan haruslah memiliki tujuan dan manfaat tertentu. Seorang guru yang baik seharusnya menetapkan tujuan jelas pada setiap pelajaran yang diajarkan. Selain itu, sang guru harus bekerja guna memenuhi tujuan tertentu yang telah ditetapkan dalam setiap kelas.

3. Menerapkan Kedisiplinan
Sebagai figur yang akan dicontoh siswa, guru harus memiliki kedisiplinan. Kedisiplinan sangat penting dimiliki oleh seorang guru agar mampu menciptakan perubahan perilaku positif baginya dan bagi siswa di dalam kelas.

4. Memiliki Manajemen Kelas yang Baik
Seorang guru wajib memiliki manajemen atau cara mengatur kelas yang baik. Dalam hal ini, guru dituntut untuk menciptakan suasana kondusif dalam kelas. Guru harus memastikan siswanya memiliki perilaku baik saat belajar maupun berdiskusi dengan kelompok. Guru pun harus menanamkan rasa hormat pada seluruh komponen di dalam kelas.

5. Menjalin Komunikasi dengan Orangtua
Guru yang baik harus menjalin komunikasi yang baik pula dengan orangtua siswa. Sang guru harus mengabarkan hal-hal yang berkaitan dengan siswa selama di sekolah, termasuk dalam hal perilaku, prestasi, dan kedisiplinan. Guru yang baik harus mampu bekerja sama secara terbuka dengan orangtua demi kebaikan dan kemajuan siswa.

6. Menaruh Harapan Tinggi pada Siswa
Seorang guru harus mampu menciptakan harmonisasai dan semangat belajar yang baik guna meningkatkan potensi dan prestasi siswa. Guru harus mendukung potensi terbaik setiap siswa dan meyakinkan bahwa potensi tersebut mampu mendatangkan manfaat dan keuntungan. Dalam hal ini, guru bertindak sebagai motivator yang baik.

7. Mengetahui Kurikulum Sekolah
Untuk memberikan pengajaran yang baik dan tepat, seorang guru harus menguasai serta mengetahui kurikulum yang ditetapkan sekolah berikut standar-standar lain secara mendalam. Dengan demikian, guru akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pengajaran yang memenuhi standar.

8. Menguasai Materi yang Diajarkan
Hal ini merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap guru ketika memulai pelajaran. Guru yang baik harus memiliki pengetahuan luar biasa mengenai materi yang dibawanya. Pengetahuan yang cukup akan memudahkan guru untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan siswa.

9. Selalu Memberikan yang Terbaik bagi Siswa
Seorang guru yang baik pasti memberikan gairah mengajar terbaik yang ia miliki. Guru yang baik akan merasa senang saat berada dalam kelas dan mengajarkan berbagai pengetahuan pada siswa. Sang guru pun akan memastikan bahwa pelajaran yang disampaikannya akan berdampak baik bagi perkembangan siswa hingga dewasa.

10. Memiliki Hubungan Berkualitas dengan Siswa
Seorang guru yang baik sejatinya menerapkan hubungan yang kuat serta menanamkan sikap saling menghormati dengan siswanya. Hal yang tidak kalah penting, guru harus menjalin sikap saling percaya dengan siswanya.


Sabtu, 24 Maret 2012

Paedagogi Praktis Abad 21

Pedagogi progresif merupakan nama lain dari pedagogi abad 21. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong perubahan dalam pedagogi sehingga dikenal juga adanya pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Pedagogi sekarang ini juga menjadi dorongan bagi orang banyak khususnya yang bergerak di bidang pendidikan untuk membentuk suatu revolusi baru dalam belajar mengajar yang menjadi tunututan zaman. Pedagogi sebagai suatu ilmu tidak hanya menuntut pemahaman, namun juga dibutuhkan pengaplikasian yang nyata untuk ke depannya, hal inilah yang kemudian membentuk pedagogi praktis.
Pedagogi sendiri termasuk dalam kategori “pengetahuan pedagogis formal” dan “pengetahuan pedagogis vernacular” (McNamara, 1991). Pedagogi formal bermakna pedagogi teoritis atau ilmiah, sedangkan pedagogi vernacular merupakan kata lain dari pedagogi praktis. Pedagogi formal atau pedagogi ilmiah merupakan upaya mengembangkan prinsip-prinsip dan teori-teori pedagogi yang efektif melalui penelitian yang sistematis, lebih abstrak dan lebih umum dari pedagogi vernacular atau pedagogi praktis. Pedagogi formal atau teoritis didukung oleh pengalaman dasar yang kuat, istimewa, dan dibangun atas pondasi kajian empiric selama proses belajar mengajar (Moore, 2000). Menurut Carpenter (2001) ada dua fungsi penelitian pedagogis. Pertama, untuk menghasilkan pengatahuan baru tentang pengajaran dan pembelajaran. Umumnya bersifat nonlinear. Kedua, untuk memungkinkan guru atau pendidik memahami, menjelaskan, membela, membenarkan, dan bila perlu memodifikasi pedagogi.
Tidak semua guru dapat mendapat pengalaman baru selama proses pengajaran, dengan beberapa alasan:
·         Informasi yang berlebihan
·         kurangnya waktu untuk berbagi pengetahuan
·         tidak menggunakan teknologi untuk berbagi pengetahuan secara efektif
·         kesulitan menangkap pengetahuan yang diperoleh
·         adanya pengekangan terhadap kreatifitas
satu kerangka kerja yang dimungkinkan oleh guru dapat mengembangkan pendekatan mereka sendiri untuk pedagogi, disarankan oleh Hallam dan Ireson (1999), yaitui:
ü  pertimbangkan tujuan pendidikan dan nilai-nilai yang mendukung pengajaran
ü  pengetahuan tentang teori belajar
ü  pengatetahuan tentang konsep-konsep yang berbeda dari mengajar
ü  pengetahuan tentang model pengajaran dan pembelajaran dan interaksi dinamis karakteristik siswa, karakteristik lingkungan belajar, tuntutan tugas, proses pengajaran dan pembelajaran, dan berbagai jenis pembelajaran
ü  memahami bagaimana pedagogi dapat dioperasionalkan di dalam kelas
ü  pengetahuan dan keterampilan untuk megevaluasi praktik, penelitian, dan teori yang berkaitan dengan pendidikan
dalam laporan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan dengan judul Memahami Otak: Menuju Ilmu Baru Belajar diungkapkan mengenai perlunya perumusan kebijakan dan praktik pendidikan yang didukung oleh pengetahuan. Atas dasar laporan tersebut ada tiga aspek penting yang salin terkait untuk memahami dan akhirnya menyelesaikan masalah ini:
1.      Kodifikasi dan penyampaian pengatahuan pedagogis praktis guru. Menurut Shulman (1987) masalah utama dalam mengajar adalah hilangnya pemahaman terhadap karya terbaik dari praktisi kontemporer bagi masa depan peserta didik.
2.      Membangun sistem pedagogis untuk berbagi pengetahuan manajemen ilmiah dan menyediakan waktru yang cukup bagi guru untuk mengembangkan dan menerapkan pengetahuan ini. Pendidikan telah memasuki era baru relevansi ilmu pengetahuan untuk tindakan, namun pengalaman praktis dari pengajaran belum didukung oleh dasar teoritis pengetahuan ilmiah yang aman (Ball, 1991)
3.      Mengembangkan kerangka teori yang kuat terhadap ilmu baru pedagogi. Masih dirasakan kesulitan dalam membangun sebuah teori pedagogi. Perdebatan mengenai teori pedagogi terus berlanjut karena memang karya teoritis yang diperlukan untuk berubah tidak mudah mewujudkannya menjadi prestasi yang solid.
Namun perlu juga diketahui cukup banyak pihak yang menolak pentingnya pedagogi, mulai dari praktisi hingga ke pejabat penting. Padahal pedagogi diperlukan dalam rangka pembelajaran teoritis maupun praktis misalnya bagaimana pemilihan strategi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pengabaian pada pedagogi berakibat buruk pada anak-anak seperti putus sekolah dan perilaku menyimpang. Hal itu juga menyebabkan teknologi baru gagal untuk mewujudkan potensi mereka di banyak ruang kelas di seluruh negeri.

Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi., Bandung: Alfabeta.

Senin, 19 Maret 2012

Paedagogi dan Prinsip Paedagogis




Pedagogi dan pedagogis, dimana bedanya? Pedagogi lebih kepada kata benda yang berarti ilmu pendidikan atau pengajaran sedangakan pedagogis merujuk pada sifatnya, yaitu bersifat pedagogi. Namun ada juga beberapa tokoh yang berpendapat lain dengan perspektif mereka masing-masing. Misalnya,

·         Pedagogis sebagai suatu proses yang kontinum (Danilov 1978).
·         Pedagogis sebagai suatu tindakan yang dilakukan guru dan siswa yang kemudian interaksi keduanya didasari teori pedagogis tertentu yang berorientasi pada tujuan dan merupakan pengembangan dari interaksi keluarga dan masrakat (Albert Garcia, 2005).
·         Pedagogis sebagai proses dari 3 hal yaitu didik, ajar, dan belajar dengan tujuan mengembangkan kepribadian siswanya (Ana Maria Gonzales Soca).

Setelah mengetahui perbedaan keduanya, selanjutnya akan dibahas mengenai prinsip-prinsip proses pedagogis.

1.      Kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses pedagogis, artinya bahwa proses pedagogis merupakan suatu proses yang terstruktur beradasarkan hal-hal baru yang telah teruji secara empiris namun tetap sesuai dengan ideology kita.
2.      Kombinasi karakter kolektif dan individual pendidikan dan penghormatan pada kepribadian masing-masing siswa, artinya proses pedagogis yang diterapkan pada karakter kolektif masih dapat melihat individu sebagai dirinya sendiri yang unik dan berbeda dari orang lain.
3.      Kesatuan pengajaran, pendidikan dan perkembangan proses, artinya pendidikan dan pengajaran harus saling terkait dan saling melengkapi.
4.      Kognitif dan afektif tidak bisa berada dalam daerah yang kering, maksudnya adalah proses pedagogis juga melibatkan dunia dalam diri individu dan juga dunia sekitarnya.
5.      Masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi, dan kepribadian saling terkait satu sama lain, artinya adalah bahwa masing-masing elemen tersebut akan saling mendukung dan membentuk satu sama lain. 

   Sifat lain dari proses pedagogis yang perlu diingat adalah: terencana, sistematis, terarah, spesifik, dan mengembangkan. Dimana untuk mewujudkannya guru harus memiliki 3 syarat utama untuk menjadi pendidik yang baik; berpengetahuan luas, keterampilan yang baik, dan kepribadian yang menyenangkan.

Testimoni Kuliah Online Paedagogi

Kuliah online pedagogi hari ini sangat menarik. Ini kali pertama kelas diadakan lewat event di facebook. Biasanya kalau kuliah online lewat gtalk. Jadi pertama kali tahu akan dibuat seperti ini jadi penasaran. Pertama sekali pengampu mengadakan absen lewat comment pada awal perkuliahan. Kemudian, selagi menunggu teman-teman yang lain masuk, pengampu memberikan suatu situs pendidikan yaitu Edukasi.net untuk diberikan komentar lewat wall dan akhirnya dikomen oleh teman-teman lain. Mulai dari situlah keadaan menjadi ramai. Kami akhirnya mengeluarkan pendapat masing-masing dari apa yang telah kami perhatikan dari situs tersebut, mulai dari bahan ajar, tampilan, dan lain sebagainya. Bagi saya pribadi sesi ini yang paling penting dari perkuliahan. Masing-masing dari kami saling mengomentari pendapat yang telah diposting di wall. Ada yang banyak dapat tanggapan ada pula yang sedikit. Namun itu tidak masalah, karena yang paling penting bagaimana pemahaman kita sendiri pada pedagogi itu tersebut.
Di akhir perkuliahan diadakan absen ulang untuk cross check peserta yang ikut kuliah. Ini sangat bagus sekali untuk memastikan apakah peserta masih “melek” selama perkuliahan berlangsung. Namun mudah-mudahan teman-teman semua masih tetap stay terbukti dari proses pemberian pendapat yang aktif dan juga dari absensi akhir yang dilakukan pengampu.
Secara keseluruhan saya sangat menyukainya. Apalagi dengan kebanyakan dari kami yang suka malu-malu kalau mau memberikan pendapat di kelas. Sangat bertentangan dengan ketika anak-anak yang suka nyerocos begitu saja. Nggak ditanya pun ada saja jawabnya. Tapi sekarang sudah ditanya pun suka diam-diam sendiri atau ngomongnya sama-sama, yang ada malah jadi pasar yang super ribut. Walaupun ribut di fb, setidaknya nggak ada suara yang mengganggu tapi posting wall yang bertebaran saling susul menyusul, hehehehe.
Sekali-sekali dibuat kuliah online itu penting juga untuk mengurangi kebosanan di kelas. Apalagi buat teman-teman (dan juga saya) yang habis pedagogi masih ada kelas klinis rasanya 5 sks berturut di kelas itu kalau kata Syahrini: Sesuatu. Ini juga akan menghemat cost buat teman-teman yang nggak ambil klinis. Jadinya libur kan, nggak ada kelas, jadi nggak ke kampus, nggak keluar duit buat ongkos??? Hehehehe.
Sekian testimony untuk kuliah online pedagogi perdana di semester 4 ini. Semoga kuliah online tidak hanya dilakukan dalam mata kuliah pedagogi saja, amin J

Minggu, 18 Maret 2012

Paedagogi dan Paradigma Belajar

Sebelum jauh membahas hubungan paedagogi dengan paradigma belajar, perlu diketahui sebelumnya apa itu pengerian paradigma. Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin ditahun 1483 yaitu paradigma yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani paradeigma (para+deiknunai) yang berarti untuk "membandingkan", "bersebelahan" (para) dan memperlihatkan (deik). Sehingga paradigma belajar merupakan suatu model atau pola dalam belajar.
Mengingat paedagogi merupakan seni untuk mengajar anak-anak, tentunya strategi yang digunakan juga akan berbeda. Harus ada pemisah yang jelas antara paradigma belajar antara anak-anak dengan orang dewasa. Perbedaan ini menimbang dari tiga sudut pandang yang jelas berbeda antara anak-anak dan dewasa. Tiga hal tersebut adalah afektif, kognitif, dan konatif. Banyak tokoh psikologi yang telah membuat banyak teori mengenai berbagai tahap perkembangan manusia dan apa saja yanga akan dilalui dalam tahap tersebut. Hal inilah yang mejadi dasar untuk membedakan paradigma belajar dalam paedagogi.
Guru sangat ditekankan untuk dapat melihat bagaimana siswa belajar, secepat apa mereka mampu menangkap tiap materi yang disajikan setiap pertemuan, dan apa saja kendala yang dihadapi selama proses belajar. Ketidakjelian guru hanya akan membuat siswanya kurang memunculkan potensi diri dan akan menurunkan semangat belajar siswanya.
Cara mengajar yang dulunya teacher-centered juga mulai bergerak ke arah student-centered. Guru bukan satu-satunya sumber belajar. Namun sebagai fasilitator. Harus tetap diingat bahwa ini tidak mutlak dilakukan mengigat keterbatasan anak-anak dalam me-manage diri sendiri. Jadi peran guru masih tetapi diperluka sebagai untuk menuntun mereka untuk dapat melakukan pembelajaan sendiri dengan segala kemampuan yang mereka miliki tanpa menyimpang dari jalurnya.   
Tidak hanya perpindahan itu yang terjadi. Perpindahan dari one-way learning ke arah interactive learning juga mesti diterapkan. Guru tidak melulu berceramah di depan kelas. Adakan suatu komunikasi dua arah antara kedua belah pihak. Agar ada feed back dari siswa, untuk mengetahuin sejauh mana perkembangannya.
Dari isolated ke networked environment. Zaman sudah berubah. Pengetahuan dapat kita dapatkan dari mana saja. Bukan hanya dari buku pegangan yang dianjurkan guru. Jangan biarkan anak belajar bagai katak dalam tempurung. Dunia ini luas, masih banyak yang dapat dipelajari apalagi dengan keingintahuan anak yang luar biasa yang terkadang simpel namun memang patut untuk digali lebih lanjut.
Kemudian perpindahan personal ke arah grup. Anak-anak yang ceria dan syka bermain tentunya akan sangat senang apabila belajarnya tidak monotn. Dia tidak hanya belajar sendiri. Ada banyak teman-teman yang bisa diajak belajar ya g dapat meningkatkan semangat belajar mereka.
Perlu diketahui juga bahwa peran dari orangtua tidak lepas dari sini. Sepulang sekolah, peran guru selesai dan sesmpainya di rumah peran pendidik dilanjut oleh orangtua. Lingkungan rumah yang baik dan keluarga yang baik dan hangat juga dapat meningkatkan semangat belajar anak. Komunikasi antar anak-orangtua sangat diperlukan untuk membentuk karakter anak dalam belajar.